Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

3.30.2009

Situ Gintung : Keajaiban Rumah Allah


Tragedi Situ Gintung selain menyisakan kisah pilu dari keluarga korban, juga membuka kisah tarbiyah dari Allah Swt.

Masjid adalah rumah Allah, namun masjid bagaimanakah yang dijaga dan dijamin Allah Swt. Sebagaimana kisah tragedi Tsunami di Aceh, diantara sekian banyak masjid yang hancur, ternyata ada juga masjid yang tetap kokoh ditengah porak porandanya bangunan disekitar masjid.

Ya.., tidak sembarang masjid. Hanya Allah yang maha tahu masjid mana yang tetap dijaga olehNya dalam segala suasana dan keadaan. Yang jelas, saya yakin-seyakin-yakinnya masjid yang masuk kriteria tersebut adalah masjid yang makmur dan hidup amalannya. Bukan satu-dua, sudah banyak sekali bukti menunjukkan bahwa masjid yang makmur dengan jamaahnya dan hidup amalannya maka masjid tersebut dijaga langsung oleh Allah Swt.

Maka, alangkah sedihnya kalau kita lihat realitas di masyarakat saat ini. Walaupun masjidnya megah, lengkap tapi lebih banyak yang sepi jamaahnya dan tidak ada amalan masjidnya. Kokohnya sebuah masjid bukan dari pondasinya yang kokoh, atau arsitekturnya yang bagus. Kuncinya hanya dari hidupnya amalan dalam masjid tersebut.

Bagi mereka yang senantiasa sibuk dengan amalan masjid, maka bukti keajaiban masjid saat tragedi Situ Gintung akan menambah semangat dan yakin serta keistiqomahan untuk tetap tawajuh menghidupkan amalan masjid. Semoga semakin banyak masjid-masjid lain yang hidup dengan amalan sebagaimana masjid Nabawi di jaman Rasulullah Saw.

Mari hidupkan amalan masjid, agar masjid kita bisa mencontoh masjid Nabawi di jaman Rasulullah, kampungnya sebagaimana kampung Madinah dan rumah-rumahnya sebagaimana rumah para sahabat.

Powered by Qumana
(wsm/kutip/prayudi.wordpress.com)


7 Keanehan pada Tragedi Situ Gintung !

Sebagaimana pada berbagai malapetaka lainnya, tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung beberapa hari yang lalu mendapat perhatian yang besar dari masyarakat. Apalagi, perhatian terhadap yang aneh-aneh. Perhatiannya bisa melebihi perhatian terhadap penderitaan para korban. Ya, terkadang “perhatian” masyarakat itu sendiri terlihat aneh juga. Apa sajakah keanehan yang terkait dengan tragedi Situ Gintung ini? Berikut ini informasi-informasi paling aneh yang dapat aku himpun sejauh ini.

1. Sejak 2 tahun ini masyarakat sekitar tanggul sudah khawatir, tetapi kekhawatiran itu kurang mendapat respon dari Pemerintah. Padahal pada Nopember 2008 lalu tanggul Situ Gintung pernah jebol walau belum parah. Anehnya, Pemerintah belum berbuat secukupnya untuk mengatasinya. Bahkan early warning system (sistem peringatan dini) pun belum dibuat.

2. Dikabarkan, “Detik-detik jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten, berhasil direkam”. Perhatikan! Merekam peristiwa yang menyedihkan ini dipandang sebagai prestasi alias kesuksesan alias keberhasilan. Aneh, ‘kan? Seandainya “jebolnya tanggul Situ Gitung berhasil dicegah”, bukankah ini yang lebih layak kita pandang sebagai keberhasilan? Mengapa tidak kita katakan saja, “Detik-detik jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten, telah direkam”?

3. Situ Gintung merupakan lokasi wisata. Anehnya, “pengunjung” justru membludak setelah tanggul itu rusak total dan tidak indah lagi. Ternyata, Lokasi Jebolnya Tanggul Situ Gintung Jadi Tontonan. Apakah tempat-tempat wisata kita perlu dirusak total supaya pengunjungnya ramai?

4. Pesan-pesan Politik di Situ Gintung. Ini dia beritanya:

“Bagaimana, apa sudah ada wartawan di lokasi? Kalau sudah, sembako kita bagikan saja,” ujar seorang caleg parpol berbicara di telepon seluler.

Setelah menutup telepon, caleg itu kemudian bergegas ke lokasi bencana banjir Situ Gintung dengan dibantu beberapa kader partainya.

Pada masa kampanye seperti ini kader dan partai politik sepertinya tidak mau kehilangan momen tebar pesona, bahkan di tempat bencana sekalipun.

Dengan dalih memberi bantuan untuk korban tragedi Situ Gintung, sejumlah caleg partai politik mau repot-repot memberi langsung bantuan ke keluarga korban bencana. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan posko bantuan lengkap dengan atribut partai dan nama caleg bersangkutan.

Para caleg parpol tampaknya sudah siap dengan situasi seperti ini. Mereka datang bak pahlawan yang siap menanggung bersama kesusahan orang lain.

Mereka tidak hanya sigap mendatangi korban, tetapi juga cepat mengurusi hal-hal yang kecil. Tidak butuh waktu yang lama, spanduk besar bertulisan ”Posko Bantuan Bencana Banjir Situ Gintung, Caleg Nomor …” sudah terpampang di depan posko.

5. Ikan Patin seberat kurang lebih 45 kg yang ditemukan di dekat tanggul Situ Gintung menjadi primadona dadakan. Ikan raksasa penghuni Situ Gintung itu mungkin akan dimasak dan disantap bersama-sama. Begitulah beritanya. Kemudian, seorang pembaca berkomentar: “itu sebenernya Tim SAR atau Nelayan sih? kok malah pada cari ikan semua… tim SAR yang aneh..“

6. Subhanallah “Masjid Utuh berdiri di bencana Jebol tanggul Situ Gintung“. Ini memang bisa dipandang aneh. Namun lebih aneh lagi kalau kejadian ini dipandang sebagai mukjizat dari Tuhan bagi umat Islam. Jika utuhnya itu dianggap lantaran kesucian masjid itu, maka bukankah ada bangunan lain “yang lebih suci” daripada masjid tersebut namun beberapa kali mengalami kerusakan lantaran banjir? (Yang aku maksud dengan “yang lebih suci” ini adalah Kakbah. Lihat “Sejarah Rekonstruksi Kakbah“.)

7. Menurut PosKota, tragedi Situ Gintung ini terjadi karena “Nyi Mas Melati Minta Tumbal“. Ini dia beritanya:

Di balik tragedi Situ Gintung yang menewaskan puluhan orang, banyak cerita misteri yang mengiringi danau seluas 21 Ha tersebut. Seminggu sebelum tanggul jebol, ada informasi kalau sang penunggu, Nyi Mas Melati menampakkan diri dengan berpakaian serba putih di tengah Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat.

Kejadian ini termasuk langka dan jarang terjadi terlebih setelah adanya ‘Pulau Bergeser’ di Situ Gintung tahun 1986. Saat itu, menurut Abah Nur, 76, tokoh masyarakat yang yang tinggal sejak tahun 1965, ada cerita munculnya ular besar yang berdiameter sebatang pohon kelapa.

“Setelah munculnya ular raksasa di tengah situ, tiba-tiba timbul gundukan tanah atau yang disebut sebagai pulau kecil di dalam Situ Gintung yang bergeser ke tengah-tengah setu. “Pulau itu terlihat saat air setu menyusut atau kering. Tapi kalau meluap tak terlihat sama sekali,” kata Abah Nur, Jumat (27/3).

Aroma mistik tersebut kembali muncul seminggu lalu, saat sejumlah warga yang sedang memancing sekitar Pk. 18:30 melihat munculnya sinar terang di tengah situ. Sinar itu menggambarkan wanita berparas cantik yang lebih dikenal warga sekitar sebagai Nyi Mas Melati, sang penunggu situ yang dibangun pada tahun 1933 oleh Belanda.

Anehnya, kalau memang firasat/ramalan seperti itu sudah ada sebelumnya, mengapa baru disebarluaskan setelah terjadi tragedi? Mengapa itu tidak disebarluaskan sebelumnya supaya tidak ada korban? (Selain itu, mengapa hanya firasat/ramalan yang “benar” saja yang diberitakan? Mengapa firasat/ramalan keliru tidak diberitakan?)Justify Full(wsm/kutip/kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com)


Walhi Pertimbangkan Gugat Pemerintah soal Situ Gintung

Jakarta (ANTARA) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mempertimbangkan akan menggugat pemerintah karena lalai dalam pemeliharaan Situ Gintung yang mengakibatkan bencana jebolnya tanggul penampungan air tersebut.

"Walhi mempertimbangkan mengajukan gugatan hukum Legal Standing atau memfasilitasi warga korban melakukan gugatan `Class Action` kepada pemerintah propinsi Bnaten dan Departemen Teknis terkait," kata Juru Kampanye Air dan Pangan Walhi Eksekutif Nasional, Erwin Usman melalui pesan singkat, Minggu.

Erwin mengatakan recana gugatan kepada pemerintah tersebut karena melihat bencana Situ Gintung murni merupakan kelalaian pemerintah menerapkan UU No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No7/2004 tentang Sumber Dyaa Air c.q PP No.42/2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air dan UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Sebelumnya, Erwin mengatakan Walhi menuntut kepada pemerintah agar membuat sistem peringatan dini (Early Warning System) kepada masyarakat di sekitar situ di wilayah Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi).

"Early Warning System segera dibenahi. Maksimal 24 jam besok sudah ada peringatan kepada masyarakat di daerah rawan," kata Erwin di Jakarta, Sabtu, mengenai solusi pasca tragedi Situ Gintung, Ciputat, Tangerang.

Pemerintah juga harus merevitalisasi sekitar 200 situ yang ada di Jabodetabek untuk menampung air hujan dari daerah yang lebih atas.

"Revitalisasi ini membutuhkan koordinasi yang cepat antara Bappenas, Departemen Keuangan selaku pemegang dana pemerintah, Departemen Pekerjaan Umum dan kepala daerah di wilayah Jabodetabek terutama situ dan bendungan yang daerah bawahnya terdapat permukiman penduduk harus segera diperbaiki oleh pemerintah," kata Erwin.

Solusi lainnya yaitu penghentian atau moratorium segala alih fungsi lahan di kawasan situ, DAS (daerah aliran sungai) dan daerah tangkapan air karena tiga daerah tersebut saling mempengaruhi.

Erwin melihat pemerintah tidak serius untuk merawat Situ Gintung terbukti dari laporan masyarakat sekitar penampungan air tersebut yang tidak ditanggapi oleh pemerintah.

"Soal perawatan Situ Gintung, pemerintah dan DPU (Departemen Pekerjaan Umum) dan pemprov Banten tak cukup cermat. Situ yang dibangun 1930 tak pernah diperbaiki cuma dilakukan semacam pengerukan di tahun 2008," katanya.

Oleh karena itu, dia melanjutkan, wajar apabila kapasitas Situ Gintung yang hanya 1,5 juta meter kubik air berpotensi jebol sangat tinggi ketika air menjadi berlebih sampai 2 juta meter kubik pada saat kejadian.

Masyarakat juga telah melaporkan luapan air yang terjadi di Situ Gintung sebelumnya yaitu dari kedalaman 2-3 meter air dan luapannya yang mencapai 5-6 meter.

Situ Gintung juga mengalami pendangkalan dan penyempitan yaitu dari luas awal 31 hektare saat ini hanya tinggal 21 hektare karena alih fungsi lahan.

"Alih fungsi disitu dengan dibangun semacam vila, restoran, kawasan ekowisata dan kawasan komersial lain yang dibangun tidak memperhatikan fungsi ekologis dan keselamatan manusia," katanya.

Alih fungsi lahan ini menunjukkan koordinasi antara Pemda Tangerang, Pemprov Banten dan Pemprov Jabar serta Jakarta buruk karena wilayah lintasan air di atas Situ Gintung meliputi DAS Ciliwung dan DAS Cisadane.

"Kondisi di hulu dikoordinasikan dengan Pemda Jabar dan Jakarta karena pemulihan daerah DAS dan tangkapan air berpengaruh terhadap hilir dan volume air yang turun," katanya.

Erwin menambahkan tragedi jebolnya Situ Gintung juga menunjukkan pemerintah tidak mempunyai sistem peringatan dini padahal masyarakat telah memberikan informasi terkait penampungan air tersebut yang airnya meluap.

"Hampir semua korban selamat mengatakan bahwa November 2008 sudah pernah terjadi air meluap tapi tidak besar seperti sekarang, dimana air meluap menggenangi rumah penduduk tapi pada skala kecil dan tidak ada korban," tambahnya.

Peristiwa jebolnya Tanggul Situ Gintung pada Jumat (27/3) dinihari sekitar pukul 04.00 WIB mengakibatkan daerah permukiman padat di sebelah utara Danau Gintung menjadi terendam, lebih 90 orang tewas, dan ratusan lainnya belum diketemukan.

Menurut pengakuan warga yang selamat, pada sekitar pukul 04.00 WIB mereka mendengar suara gemuruh dan seakan-akan terjadi gempa bumi.

Ternyata, hal itu disebabkan oleh derasnya aliran air yang menghunjam pemukiman warga akibat jebolnya tanggul tersebut.
(wsm/kutip/antaranews)