Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

5.11.2008

Cinta Tak Harus Memiliki

Kesalahmengertian banyak pihak terhadap makna cinta yang sesungguhnya, atau kesalahpamahan banyak orang dalam memaknai cinta, akhirnya menjadi sasaran empuk dunia bisnis entertainment. Cinta, yang selalu diidentikkan dengan geliat nafsu terhadap lawan jenis, akhirnya membentuk habitat bisnis nafsu. Bila cinta identik dengan nafsu, akan amat banyak makanan tidak sehat yang bisa disajikan. Ironisnya, kalau dijajakan secara apik dan menarik, dagangan maksiat itu dijamin laris manis,
Karena cinta adalah milik ambisi dan pasangan nafsu, maka cinta jenis itu mendorong para pemuja cinta untuk mengejar yang dicintai. Segala yang ia cintai, harus menjadi miliknya.

Definisi Cinta............



Sejenak, mari kita membuai diri dengan makna cinta, menurut pakarnya.
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, "Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri. Membatasi makna cinta, justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka definisi dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri. "

Suatu kali, beliau menjelaskan, " Cinta dapat dirumuskan dengan memperhatikan turunan kata cinta, mahabbah, dalam bahasa Arab. Mahabbah berasal dari kata hubb. Ada lima makna untuk akar kata hubb.
Pertama, al-shafâ wa al-bayâdh, putih bersih. Bagian gigi yang putih bersih disebut habab al-asnân.
Kedua, al-‘uluww wa al-zhuhur, tinggi dan kelihatan. Bagian tertinggi dari air hujan yang deras disebut habab al-mâi. Puncak gelas atau cawan disebut habab juga.
Ketiga, al-luzum wa al-tsubut, terus menerus dan konsisten. Unta yang menelungkup dan tidak bangkit-bangkit dikatakan habb al-ba’ir.
Keempat, lubb, inti atau saripati sesuatu. Biji disebut habbah karena itulah benih, asal, dan inti tanaman. Jantung hati, kekasih, orang yang tercinta disebut habbat al-qalb.
Kelima, al-hifzh wal-imsâk, menjaga dan menahan. Wadah untuk menyimpan dan menahan air agar tidak tumpah disebut hibb al-mâi."

Maka, masih menurut Ibnul Qayyim, muncullah berbagai definisi cinta, atas dasar makna dan pengertian-pengertian di atas. Di antara definisi tersebut adalah sebagai berikut:
• Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).
• Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.
• Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sebunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.
• Pengembaraan hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.
Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.

Mengejar Cinta
Kejarlah cinta sejati. Namun sadarlah, sesungguhnya yang dikejar bukan zat cinta itu sendiri. Sesungguhnya yang dikejar adalah sesuatu 'yang dicintai'. Dengan segudang alasan logika, kemanusian, kewajaran, keberadaban, hingga keagamaan, hanya Allah, Yang Menciptakan segalanya, termasuk kamu, yang paling wajib kamu cintai. Haram bagi kamu mencintai apapun, melebihi cintamu kepada-Nya.

Simaklah firman-Nya,

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)." (Al-Baqarah : 186)

Cinta kepada Allah adalah sumber segala wujud cinta sejati. Sebab, cinta kepada Allah adalah cinta kepada sumber segala cinta, cinta terhadap sumber keabadian cinta, cinta kepada Pencipta dari cinta itu sendiri. Sehingga, cinta yang paling sejati itu, dapat mengangkat bukan saja harkat pencinta-Nya, namun juga derajat amal perbuatan si pecinta itu sendiri.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Ash-Sahihain, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
“Ketika saya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari masjid, kami bertemu dengan seorang laki-laki di pintu masjid.
Pria itu bertanya, “Wahai Rasulullah! Kapankah terjadinya Hari Kiamat itu?” Rasul r menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?”
Laki-laki itu terdiam, lalu menjawab, “Wahai Rasulullah! Saya tidak mempunyai banyak persiapan baik amal shalat, puasa, maupun sedekah. Tapi saya hanya mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda
“Engkau akan beserta dengan orang yang engkau cintai.”
Dalam riwayat lain, disebutkan perkataan Anas radhiyallahu anhu, “Maka tak ada yang membuat kami sangat bahagia setelah Islam selain dari ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ‘Engkau akan beserta dengan orang yang engkau cintai’.”

Mengejar cinta Allah, berarti mengejar keridhaan-Nya. Bila itu menjadi hasrat utama Anda, berbahagialah dengan segala kemenangan di baliknya.

" Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik...." (Al-Ankabut : 69)



Cinta dan Memiliki
Kamu boleh mencintai siapa saja, selama itu tak berlawanan dengan konsep cinta kepada Allah. Kamu berhak mencintai orang tua dan saudara-saudara kamu. Kamu juga bebas mencintai siapapun di antara teman-teman kamu. Bahkan, sebagai pria atau wanita, kamu juga punya hak untuk mencintai lawan jenis. Karena dengan cinta itulah, seseorang mengubah status hidupnya dari bukan siapa-siapa terhadap pasangannya, menjadi suami atau isterinya. Menikah tanpa bekal cinta –seperti yang diperintahkan dalam sunnah nazhar--, niscaya akan kehilangan sebagian dari keindahannya.
Namun, makna cinta selama ini telah dikaburkan oleh ambisi nafsu dan syahwat. Sehingga banyak orang merasa, bahwa ia berhak mencintai apapun, dan karena itu ia berhak memilikinya. Dengan kata lain, segala yang ia cinta, harus menjadi miliknya. Karena miliknya, maka yang dicintai harus tunduk di bawah kemauannya. Konsep ini muncul secara tiba-tiba, bukan sebuah hal yang direncanakan. Karena konsep inilah, beragam kerancuan terjadi. Karena yang muncul adalah hal-hal yang berlawanan dengan fithrah manusia itu sendiri.

1. Banyak suami isteri bercerai, dengan alasan, pasangannya tak mau menuruti apa yang dia inginkan. Karena itu, ia merasa bahwa mereka terlalu berbeda. Karena itu pula, mereka tak layak menjadi pasangan suami isteri yang ideal.
2. Banyak orang tua menganggap anak-anaknya telah bersikap durhaka, karena tak mematuhi perintahnya. Tanpa sadar, bahwa sebagian di antara perintah itu bermuatan dosa dan maksiat, dan terkadang anak-anak tidak mematuhinya karena tak mau terjerumus dalam dosa dan kemaksiatan.
3. Banyak para muslimah yang mengutuki sikap kedua orang tuanya yang tak mengizinkannya menikah dengan pria yang sangat mereka cintai. Tanpa mereka sadar, bahwa kedua orang tuanya melarangnya menikah dengan pria itu, karena pria itu itu sosok pemuda muslim yang banyak berbuat maksiat, tidak memiliki akhlak yang bagus, dan bahkan terkadang sebagian di antara mereka jelas-jelas non muslim!!!
4. Banyak guru-guru yang marah besar, karena murid-muridnya tumbuh tak sebagaimana yang mereka inginkan.
5. Banyak murid yang membenci dan mengutuki gurunya, karena tak memberinya kebebasan memilih, sesuai hasrat dan keinginannya.

Seringkali itu terjadi, karena mereka menganggap bahwa semua yang mereka cintai harus tunduk di bawah kemauan mereka. Tanpa mereka sadar, bahwa suami dan isteri masing-masing memiliki bukan saja hak, tapi juga kewajiban. Bahwa keserasian bukan berarti kesamaan dalam banyak keinginnan, dalam watak dan kemauan. Mereka tidak sadar, bahwa segala sikap, tindakan dan kemauan seorang hamba, selalu dibatasi oleh kehendak dan aturan Yang MahaKuasa. Cinta sejati bukan mendorong seseorang untuk harus memiliki siapa pun yang ia cintai. Tapi justru mendorongnya untuk memberi yang terbaik kepada siapa pun yang ia cintai. Bukan saja untuk kehidupan fana ini, namun untuk keabadian di alam nanti.

Ar rislah min majalah el fata


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda