Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

7.11.2008

Kebenaran Menuntun ke Surga

Bicara benar? So pasti itu? Bertindak benar?
Tentu donk! Tapi, apa sich yang dimaksud
Benar alias sidiq itu?
Sidiq yang juga bermakna benar merupakan jalan lempang lagi lurus. Siapa pun dia yang tidak berjalan di atasnya, berarti gagal dalam perjalanan kehidupannya.
Banyak ungkapan yang mendefinisikan kata sidiq ini. Secara garis besar sidiq merupakan perkataan dan tindakan benar di hadapan orang yang ditakuti dan di hadapan orang yang diharapkan. Kebenaran disini juga mencakup amalan hati seseorang.............




Kebenaran juga menjadi ukuran yang membedakan antara orang munafik dan orang beriman, antara penghuni surga dan neraka. Sebab, kebenaran merupakan asas dari iman dan sebaliknya, dusta merupakan asas dari kemunafikan. Makanya, tak heran kalo Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berkata dusta…." Alias bicara tidak benar.”

Orang yang memiliki sifat benar/sidiq ini memiliki derajat yang mengikuti derajat kenabian-yang menjadi derajat paling tinggi. Allah l memerintahkan kita untuk selalu bersama dengan orang-orang yang benar karena merekalah orang yang secara spesial telah mendapat nikmat dari Allah yang digandengkan dengan para nabi, syuhada, dan orang-orang shalih, dan merekalah sebaik-baik teman.
Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan,

"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (An Nisa': 69)

Penunjuk Kebajikan
Tentunya, manusia dalam kaitan ini dituntut kudu benar dalam semua aspek kehi-dupannya. Bila ia memiliki semuanya, berarti memiliki kebenaran yang sempurna. Kebe-naran ini meliputi; kebenaran ucapan, kebe-naran perbuatan, kebenaran keadaan /hati.
Sidiq dalam ucapan berarti menegakkan lisan dalam perkataan seperti tegaknya bulir pada tangkainya. Perkataan yang benar akan selalu diucapkan dimana pun dibutuhkan.
Benar di dalam perbuatan memiliki pengertian selalu menegakkan amal sesuai dengan perintah Allahldan mengikuti sunnah. Jadi tindakan dan amal yang dilakukan selalu berdasar cahaya ilahi dan tuntunan kenabian. Sedangkan benar dalam keadaan adalah menegakkan amal hati dan perbuatan anggota badan di atas dasar keikhlasan. Maka tolok ukur kebenaran seseorang tergantung kesempurnaan dalam hal ucapan, perbuatan, dan keadaan.
Dalam tataran ini Abu Bakar, seorang sahabat termulia Nabi shallallahu alaihi wa sallam memiliki gelar As sidiq karena terkumpul pada diri beliau sifat benar dalam ucapan, perbuatan, dan keada-annya.
Begitu pentingnya sifat sidiq ini sehingga ia menjadi elemen dasar yang dapat menunjukkan seseorang kepada kebajikan, sementara kebajikan yang dilakukan akan menunjukkan seseorang ke dalam surga sebagaimana Sabda nabi shallallahu alaihi wa sallam,

"Sesungguhnya kebenaran itu memberi petunjuk kepada kebaikan dan kebaikan akan memberi petunjuk ke surga. Sesung-guhnya seseorang itu senantiasa benar hingga dia ditetapkan (di sisi Allah) sebagai orang yang benar. Dan sesungguhnya dusta itu memberi petunjuk kepada kejelekan dan kekejian itu memberi petunjuk kepada neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa dusta hingga ia ditetapkan sebagai pendusta di sisi Allah." (Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadikan sidiq sebagi kunci dan permulaan untuk mencapai tujuan yakni surga. Tentunya dengan kunci ini seorang pendusta baik dalam hal perkataan, perbuatan dan keadaannya, tak akan bisa mencapai tujuan yang hakiki dari kehidupan ini. Naudzubillah min dzalik!

Biang Kehancuran
Jelaslah, sifat sidiq dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan merupakan sarana mencapai kebahagian secara hakiki. Karenanya, kebenaran menjadi kunci pencapaian sesuatu, pirantinya, sekaligus penyempurnanya. Bukankah tidak sedikit, akibat ketidakbenaran segala usaha menjadi sia-sia? Banyak hal pula yang kandas akibat kedustaan? Bahkan bisa dibilang, ketak-benaran adalah biang kehancuran dalam muamalah, ibadah, dan kehidupan secara umum.
Dalam ibadah, seorang hamba yang tidak benar dalam meniatkan ibadahnya akan bermuara kepada kesia-siaan.
Orang yang ikhlas dalam amal tapi tidak benar dalam ibadah (tidak mengikuti cara ibadah Nabi shallallahu alaihi wa sallam) tetap akan menuai hasil nol.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

"Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka akan tertolak."

Bukankah sesuatu yang tertolak sama saja tak ada nilainya?
Dalam muamalah, berapa banyak persau-daraan menjadi tercoreng karena ketidak-benaran? Betapa banyak pula pertemanan berubah menjadi permusuhan dan pertum-pahan darah akibat ketidakbenaran ini?
Begitulah, kebenaran/sidiq memegang peranan yang gede. Dalam muamalah secara umum, pertemanan, hingga ibadah, sangat butuh akan kebenaran.
Kebenaran dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan/hati. Siapa pun kamu, pastilah butuh sifat kebenaran/sidiq. Bukankah sesuatu yang dibutuhkan akan selalu dicari? Bagaimana dengan sidiq ini? Terlebih kebenaran yang dapat menunjukkan diri kita ke surga. Semoga selalu kita cari dan segera menerapkan dalam kehidupan!

*Ane Kutip dari majalah El Fata


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda