Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

7.20.2008

Menggapai Hikmah Pelangi Kisah.

Bagian 10. Kisah – kisah dibalik ‘Asbabun Nuzul’. 

  Al Baqarah ayat 1 – 5

 “Qutilal insaanu maa akfarah(uu)”
(Celakalah manusia, alangkah keterlaluan (sangat) kekafirannya)

“Min ayyi syai-in khalaqah(uu)”  
(Dari sesuatu apakah Dia menciptakannya)............




“Min nuthfah(tin), khalaqahuu faqaddarah(uu)”
(Dari setetes mani Dia menciptakannya, lalu Dia menentukannya)

“Tsumma-ssabiila yassarah(uu)”
(Kemudian Dia memudahkan jalannya)

“Tsumma amaatahuu fa-aqbarah(uu)”
(Kemudian Dia mematikannya, lalu Dia memasukkannya ke kubur)

“Tsumma idzaa syaa-a ansyarah(uu)”
(Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya)

“Kallaa lammaa yaqdhi maa amarah(uu)”
(Sekali-kali jangan, ia belum melaksanakan apa yang Dia perintahkan kepadanya)
(Surat ‘Abasa ayat 17 – 23).

   

  ntuk menerapkan isi Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan bermasyarakat diperlukan pemahaman yang benar atas makna maksudnya. Pemahaman yang lebih baik terhadap makna tafsir memerlukan pengetahuan latar belakang turunnya Al Qur’an atau ‘Asbabun Nuzul’ (Asbab al-Nuzul). Latar belakang turunnya ayat-ayat suci Al Qur’an dapat berupa peristiwa atau kejadian, informasi atau berita, dan pertanyaan.
Karena Asbabun Nuzul dianggap penting dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, beberapa ulama bekerja keras untuk mengumpulkan materi latar belakang, meneliti dan membuat validasi atas materi yang diperolehnya, antara lain Imam al-Wahidi, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Daqiequl ‘Ied.
  Ketiga ulama tersebut menyimpulkan hal yang sama akan arti pentingnya mempelajari Asbabun Nuzul untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan penafsiran, karena mengetahui kejadian turunnya ayat akan banyak membantu memaknai maksud yang terkandung didalamnya secara kontekstual atau harafiah semata.
Pernah sahabat Ubaidah mendapat pertanyaan dari Muhammad bin Sirin tentang makna suatu ayat Al Qur’an. Ubaidah dengan terus terang menjawab bahwa orang yang mengetahui kondisi dan situasi sewaktu ayat tersebut diturunkan sudah meninggal dunia. Oleh karena itu katanya untuk mengetahuinya diperlukan penelusuran Hadith dan Sunnah yang relevan dengan ayat yang dimaksud tersebut. Bila diperlukan dilihat terlebih dahulu isnad nya dan kapasitas rawi nya, misalnya apakah dia termasuk ulama ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.
  Informasi-informasi yang diterima dan dikatakan melatar belakangi turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. oleh para ulama senantiasa disikapi dengan kritis. Karenanya ada kejadian atau berita yang ‘dianggap shahih dan ada yang dla’if’, bahkan ada yang dianggap palsu demi memberi justifikasi atas maksud atau kehendak tertentu. Terlepas dari hal demikian, perbedaan sumber berita juga dapat menyebabkan adanya beberapa kisah asbab yang berbeda dari satu ayat atau satu rangkaian ayat yang sama. Ini semua menjadi garapan para ahli ilmu Al Qur’an, ilmu Tajrih, penyusun Sirah Nabi Muhammad saw. dan pakar ilmu agama, disamping para orientalis yang mengadakan studi dan penelitian khusus atas masalah ini.
Sudah barang tentu para ahli yang mendalami masalah ini juga sudah mempersiapkan diri untuk menanggapi pertanyaan sampai seberapa jauh kisah faktual atau lainnya dalam Asbabun Nuzul memiliki kekuatan hukum atau katakanlah memiliki kekuatan relevansi atas pemutusan perkara yang menggunakan hujjah ayat tertentu dalam Al Qur’an. 
  Sebagian dari ayat-ayat Asbabun Nuzul diawali dengan pertanyaan yang pada waktu diajukan belum ada ketetapannya atau masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, misalnya tentang Allah swt. yang terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 186:
“Wa idza sa’alaka ‘ibadi ‘anni fa’inni qarib(un). . . . . . . . . . “
(“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku maka aku sesungguhnya dekat . . . . . . . . . . “).
Pertanyaan lain yang berkenaan dengan keajaiban alam, yang dijawab Allah swt. dalam surat Al Baqarah ayat 189:
“Yas’alunaka ‘anil ahillah(ti). . . . . . . . . . . . . “
(“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan baru/sabit. . . . . . . . .”).
  Selain itu pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah saw. ada yang berkenaan dengan kehidupan keluarga seperti masalah sekitar wanita, perkawinan, masalah warisan dan sebagainya dimana jawaban Allah swt. melalui beliau dinyatakan sebagai fatwa atau ketetapan yang memiliki kekuatan hukum, misalnya surat An Nisa ayat 127:
“Wa yastaftuunaka finnisaa’(i). . . . . . . . “
(“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan. . . . . . “).
Tidak jarang pertanyaan diajukan oleh orang-orang musyrikin untuk merendahkan Nabi Muhammad saw. atau menguji Kerasulan beliau, seperti yang terdapat dalam surat Al Kahfi ayat 83:
“Wa yas-aluunaka ‘an dzil qarnain(i). . . . . . . .”
(“Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain. . . . . . “).
Surat Al Isra ayat 85 tentang ruh:
“Wa yas-aluunaka ‘anir ruuh(i). . . . . . . . . .”
(“Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang ruh. . . . . . . . . .”).
  Ada sementara ulama yang berpendapat bahwa pengertian Asbabun Nuzul mempunyai kaitan dengan pengertian Nasikh-Mansukh terutama dalam konteks sebagai sumber pengambilan ajaran agama, dimana bagian/ayat tertentu dari Al Qur’an atau Al Hadith ‘diganti’ (mansukh) dan bagian yang ‘mengganti’ (nasikh).
Dalam konteks yang lebih luas Asbabun Nuzul tidak hanya menyangkut segi kebahasaan atau linguistik semata, tapi bersentuhan dengan horison yang lebih jauh lagi yakni kultur atau budaya regional Arab pada saat itu, misalnya surat Al Mulk ayat 3:
“Alladzii khalaqa sab’a samaawaatin thibaaqaa(n). . . . . . . . .”
(“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. . . . . . . . “)
dimana kebiasaan bangsa Arab pada waktu itu, untuk menyatakan segala sesuatu yang banyak menggunakan istilah ‘tujuh’.
  Para ahli tafsir menggunakan Asbabun Nuzul untuk mendekatkan penafsirannya pada realita kejadian yang memiliki relevansi dengan turunnya wahyu melalui malaikat Jibril. Dengan demikian Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus dalam satu bundel idealisme konsep ajaran, melainkan secara bertahap memberi norma acuan, membimbing dan mengarahkan solusi atas permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya. 
  Mukjizat Al Qur’an menempatkannya pada posisi tertinggi sebagai kebenaran terakhir yang mampu menjawab kehausan filsafat selama ratusan tahun atas kegigihan usaha ‘mencari kebenaran terakhir’. Seseorang yang mampu menangkap konsistensi aspirasi Islam dalam format kaffah akan menemukan integritas perpaduan filsafat dengan nilai-nilai terapan, perpadun antara nilai ukhrawi dengan mekanisme proses antara idealisme (dunia – akhirat) dengan amal nyata dan realita kehidupan. Allahu Akbar.

Berita karena kasih sayang.
  Beberapa kisah yang menjadi penyebab diturunkannya ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an (Asbabun Nuzul), antara lain dalam suatu riwayat dikemukan bahwa Rasulullah saw. mengutus Ali, Zubair dan Al Miqdad bin Al Aswad, dimana beliau bersabda: “Pergilah kalian ke kebun Khakh. Di sana kalian akan bertemu dengan seorang wanita yang membawa surat. Ambilah surat itu daripadanya dan bawalah surat itu kepadaku”. 
Berangkatlah mereka bertiga hingga sampai ke tempat yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Disitu mereka bertemu dengan seorang wanita yang naik unta. Berkatalah mereka: “Berikanlah surat itu kepadaku”. Ia menjawab: “Saya tidak membawa surat”. Mereka berkata: “Sekiranya engkau tidak menyerahkannya akan kami paksa”. Dengan susah payah ia mengeluarkan surat itu dari sanggul rambutnya.
  Kemudian mereka membawa surat itu kepada Rasulullah saw. Ketika diperiksa ternyata surat itu dari golongan Shahabat yang bernama Hathib bin Abi Balta’ah yang ditujukan kepada orang-orang musyrikin di Makkah, yang isinya memberitahukan kepada mereka beberapa perintah Nabi saw. Akhirnya Hathib bin Abi Balta’ah dipanggil oleh Rasulullah saw. Setelah berada dihadapan Rasulullah saw., beliau bertanya kepada Hathib: “Apakah ini wahai Hathib? (sambil memperlihatkan surat)”. Hathib menjawab dengan ketakutan: “Janganlah tergesa-gesa menghukum aku yaa Rasulullah. Aku mempunyai teman dari golongan Quraisy, akan tetapi aku sendiri tidak termasuk dari golongan mereka. Di antara shahabat-shahabat kaum Muhajirin yang ada sekarang, di sana mempunyai kerabat yang bisa menjaga famili dan harta bendanya. Sedang aku tidak mempunyai kerabat seperti mereka. Karenanya aku membuat budi kepada mereka supaya mereka menjaga keluargaku yang lemah dan harta bendaku. Aku berbuat demikian bukan karena kufur atau murtad dari agama dan bukan ridha akan kekufuran”. Rasulullah saw. bersabda: “Ia mengatakan apa adanya (yang sebenarnya)”.
  Ayat 1 - 2 surat Al Mumtahanah turun berkenaan dengan peristiwa ini, yang melarang kaum Mukminin memberikan kabar berita terhadap kaum kafir karena rasa sayang terhadap mereka (supaya disayangi mereka).
(Diriwayatkan oleh As-Syaikhani yang bersumber dari Ali).
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu itu sebagai sahabat yang kamu sampaikan kepada mereka (berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, dan sesungguhnya mereka ingkar terhadap kebenarn yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah Tuhanmu. Jika kamu keluar untuk berjuang pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah) kamu beritahukan secara rahasia (berita Muhammad) kepada mereka, lantaran kasih sayang, sedangkan Aku lebih mengetahui terhadap apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa yang melakukannya diantara kamu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”
  “Jika mereka menangkap kamu (niscaya) mereka menjadi musuh bagimu dan mereka melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu, dan mereka menginginkan supaya kamu kafir”
(Surat Al Mumtahanah ayat 1 – 2).
  Dalam riwayat berikutnya dikemukakan bahwa Qatilah (ibu kandung Asma yang belum Islam) datang kepada anaknya, Asma binti Abi Bakar. Setelah kejadian itu Asma datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Ya Rasulullah, bolehkah saya berbuat baik kepadanya”. Rasulullah saw. menjawab: “Ya, boleh”.
(Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Asma’ binti Abi Bakar).
Pada riwayat lain disebutkan ibu Asma yang bernama Qatilah datang membawa bingkisan dan Asma menolak pemberian itu. Maka Rasulullah saw. mendengar kejadian itu mengatakan kepada Asma agar menerima bingkisan itu.
Berkenaan dengan kejadian tersebut turun ayat 8 surat Al Mumtahanah yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang berbuat baik kepada orang kafir yang tidak memusuhi agama Allah.
(Diriwayatkan oleh Ahmad, AL Bazzar dan Al hakim yang bersumber dari Abdullah bin Zubair).
  “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.
(Surat Al Mumtahanah ayat 8).

Menggabungkan Kunci Dunia dan Nikmat Akhirat.
  Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kepada Nabi Muhammad saw. pernah ditawarkan oleh Allah swt. melalui Jibril dengan berkata: “Sekiranya tuan inginkan, Kami akan serahkan segala kunci-kunci bumi dengan segala isinya tanpa mengurangi bagianmu di akhirat. Dan sekiranya tuan inginkan, Kami akan gabungkan (kelak) kedua-duanya untuk tuan di akhirat”. Nabi Muhammad saw. menjawab: “Gabungkan saja untukku di akhirat”. Maka turunlah ayat 10 surat Al Furqan sebagai pujian kepada Nabi Muhammad saw. yang dapat memilih yang lebih baik.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Khaitsamah).
  “Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, (niscaya) dijadikanNya bagimu lebih baik dari yang demikian, (yaitu) kebun-kebun yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana”.
(Surat Al Furqan ayat 10).
  Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Ubay bin Khalaf bermaksud hadir dalam pertemuan yang diadakan oleh Nabi Muhammad saw. Akan tetapi dia dilarang oleh kawannya yang bernama ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Maka turunlah ayat 27, 28 dan 29 surat Al Furqan, yang menggambarkan bahwa orang yang dhalim akan menyesali dirinya di akhirat.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas, Syu’bi dan Miqsam).
  “Dan pada hari (ketika) orang yang dhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama Rasul”.
  “Kecelakaan besarlah bagiku, sekiranya aku (dahulu) tidak menjadikan sifulan (sebagai) teman akrab”.
  “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al Qur’an), ketika peringatan itu datang padaku, dan syaitan itu adalah penyesat bagi manusia”.
(Surat Al Furqan ayat 27 – 29).
  Dalam suatu riwayat dikemukakan penduduk Makkah berkata kepada Nabi Muhammad saw: “Sekiranya apa yang engkau katakan itu benar dan engkau menghendaki agar kami iman kepadamu cobalah jadikan bukit Shafa ini emas”. Datanglah Jibril dan berkata: “Sekiranya engkau kehendaki apa yang dikehendaki oleh kaummu; tapi sekiranya mereka tidak beriman setelah dikabulkan permintaannya, mereka serta merta akan disiksa tanpa diberi tempo lagi, atau engkau sendiri menangguhkan dalam mengabulkan permintaan mereka dengan harapan agar mereka beriman”.
Ayat 6 surat Al Anbiya turun sebagai peringatan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa kaum-kaum sebelum mereka pernah meminta mu’jizat, akan tetapi setelah dikabulkan mereka tetap kufur.
  “Tidak ada penduduk dari suatu negeri yang beriman yang telah Kami binasakan sebelum mereka, maka apakah mereka akan beriman?”. 
(Surat Al Anbiya ayat 6).
  Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw. membaca surat As Sajdah dengan nyaring, orang-orang Quraisy merasa terganggu dan mereka bersiap-siap untuk menyiksa Rasulullah saw., tapi tiba-tiba tangan mereka terbelenggu di pundaknya masing-masing, dan mereka menjadi buta sama sekali. Mereka mengharapkan pertolongan Nabi Muhammad saw. seraya berkata: “Kami sangat mengharapkan bantuanmu atas nama Allah dan atas nama keluarga”. Kemudian Rasulullah saw. berdo’a dan mereka kembali seperti semula dan dapat melihat seperti sedia kala, tapi tak seorangpun dari mereka yang beriman (setelah kejadian itu).
Berkenaan dengan peristiwa itu turunlah ayat 1 – 10 surat Yaa Siin yang berbunyi:
“ Yaa Siin
Demi Al Qur’an yang penuh hikmah
Sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul – Rasul
(Yang berada) diatas jalan yang lurus
Yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang
Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatn, maka mereka lalai
Sesungguhnya pasti berlaku keputusan (Allah) atas kebanyakan mereka, maka mereka tidak beriman
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu pada leher mereka, lalu ia sampai ke dagu, maka mereka tertengadah
Dan Kami jadikan diantara hadapan mereka dinding dan dari belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mereka, maka mereka tidak dapat melihat
Dan sama saja atas mereka, apakah kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman”.
(Surat Yaa Siin ayat 1 – 10).
  Dalam suatu riwayat dikemukakn bahwa Arbad bin Qais dan ‘Amir bin at-Thufail menghadap Rasulullah saw. di Madinah. ‘Amir berkata: “Hai Muhammad! Jabatan apa yang engkau akan berikan kepadaku apabila aku masuk Islam?”. Rasulullah saw. menjawab: “Hakmu sama dengan hak kaum Muslimin dan kewajibanmu serupa dengan kewajiban mereka”. Dia berkata lagi: “Apakah akan menjadikan aku pimpinan setelahmu?”. Nabi Muhammad saw. menjawab: “Itu bukan urusanmu dan juga bukan urusan kaummu”.
  Kemudian mereka berdua keluar, dan berkatalah ‘Amir kepada Arbad: “Aku akan ajak bicara Muhammad sehingga ia tidak memperhatikan kamu, dan di saat itulah kamu penggal lehernya”.
Kemudian mereka kembali kepada Rasulullah saw. dan ‘Amir berkata: “Hai Muhammad! Mari kita bicarakan sesuatu”. Maka berdirilah Rasulullah saw. mengikuti ajakan mereka. Pada saat itu Arbad telah bersiap memegang hulu pedang untuk mencabutnya, akan tetapi tangannya tidak berdaya. Rasulullah saw. berpaling dan melihat perbuatan itu, kemudian beliau meninggalkan kedua orang itu dan mereka pergi. Ketika sampai ke kampung Raqm, Allah swt. mengirimkan petir untuk menyambar Arbad sampai mati.
Allah swt. menurunkan ayat 8 – 13 surat Ar Ra’du sebagai penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu termasuk yang masih tersimpan didalam hati dan Allah Maha Kuasa mengatur hidup dan mati mahlukNya.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas).
  “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya.
  Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak, Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.
  Sama saja (bagi Allah), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapan dan siapa yang menampakkannya, siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan di siang hari.
  Baginya ada pengiring (Malaikat) diantara dua tangannya dan dari belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan jika Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
  Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu (yang menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.
  Dan guruh bertasbih dengan memujiNya, dan para Malaikat takut kepadaNya. Dan Allah melepaskan halilintar lalu mengenai siapa yang dikehendakiNya, namun mereka berbantah-bantahan tentang Allah. Dan Dia Maha Keras siksaNya”.
  Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi Muhammad saw. diberi tahu hari wafatnya. Bersabda Rasulullah saw,: “Ya Tuhnku siapa yang akan membela ummatku ini?”. Maka turunlah ayat 34 surat Al Anbiya yang berbunyi:
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun dari sebelum kamu (Muhammad saw.), maka apakah jika kamu mati, mereka akan (hidup) kekal?”.
Beberapa kali kejadian menunjukkan betapa kasih sayang Rasulullah saw. kepada ummatnya, tanpa mengharapkan sesuatu balasan apapun selain ridha Allah swt. Sampai suatu saat semua manusia dihidupkan kembali, seraya berkata: “Siapa yang membangunkan aku dari tidur”, tapi Rasulullah saw. justru bertanya: “Dimanakah ummatku?” Bahkan sewaktu satu persatu ummatnya diberi kesempatan meniti Shirat, beliau dari ujung yang satu terus menerus memohon kepada Allah swt.: “Selamatkan dia, selamatkan dia, yaa Allah”.
  Diriwayatkan pada suatu ketika Rasulullah saw. menderita sakit, sehingga datanglah kepadanya dua Malaikat, yang satu duduk di sebelah kepalanya dan yang satu lagi di sebelah kaki beliau. Berkatalah Malaikat yang berada di sebelah kaki beliau: “Apa yang engkau lihat?”
Yang satu menjawab: “Dia terkena guna-guna.” “Apa guna-guna itu” “Guna-guna itu sihir”. “Siapa yang membuat sihirnya?” Ia menjawab:”Labid bin al A’sham Alyahudi yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di sumur keluarga si anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya kemudian ambilah gulungannya dan bakarlah”.
  Pada pagi harinya Rasulullah sw. mengutus ‘Ammar bin Yasir dengan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu nampaklah airnya merah seperti air pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungannya terus dibakar dan ternyata di dalam gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. 
Surat Al Falaq dan An Nas yang terdiri dari sebelas ayat turun berkenaan dengan peristiwa itu. Setiap kali Rasulullah saw. membaca satu ayat terbukalah simpulnya.
(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi yang bersumber dari Ibnu Abbas).
  Memaknai aspirasi yang terkandung dalam ayat atau rangkaian ayat akan memunculkan perspektif garis yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan memahami dan menafsirkan substansi inti pesan yang dikandungnya. Inilah yang disadari atau tidak dapat melahirkan pemahaman dan penafsiran pribadi yang terkesan lebih akademis dan individualistis, namun kadang sulit dimengerti oleh orang lain terlebih mereka yang awam akan pesan-pesan dan simbol-simbol intelektual, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan kesan yang menjauh dari kemudahan dan kesederhanaan untuk dipedomani dan diamalkan.
Sungguh beruntung kaum Muslimin, Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan Islam sebagai agama yang dapat diakses oleh siapa saja, pada strata berapa saja, tanpa pra-persyaratan (pre requisite) yang harus dipenuhi terlebih dahulu; yang karena mu’jizatnya dapat menampakkan diri sebagai ajaran dengan norma yang sederhana serta mudah dimengerti dan diamalkan oleh mereka yang lebih berbekal pada Iman dan Ikhlas.
  Ada pengakuan bahwasanya Islam memiliki aspirasi idealisme yang tinggi, sehingga mampu memberi respons intelektual yang terus bergerak menuntut kepuasan logika yang terkadang tanpa disadari terbawa pada intensitas diskusi ilmiah yang menghasilkan konsep yang lebih mudah dianalisa sebagai sains daripada petunjuk yang menerangi dan menenangkan hati. 
Berbarengan dengan itu setiap muslim mengakui dan menyadari bahwasanya agama Islam adalah agama petunjuk yang memberi tahu arah jalan hidup dan proses pencapaiannya berupa amal dan ibadah menuju pada kebahagiaan dunia akhirat. Inilah karakteristik yang menempatkan Islam sebagai agama yang tidak pada posisi untuk dikomparasikan ‘apple to apple’ dengan paham atau isme lain, karena dari awal sudah dimuliakan oleh Yang Maha Pencipta pada kedudukan dan misi yang berbeda (‘Rahmatan lil alamin’). 
(Sumber: “Asbabun Nuzul”, “Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah”, Dan Lain-lain).


   




   


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda