Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

3.10.2009

Ikuti Teladan Nabi dalam Kehidupan Sehari-hari

JAKARTA -- Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW selama ini hanya dijadikan sebagai perayaan mengenang nabi saja. Karena itu, para ulama mengharapkan umat Islam tak hanya sekedar melakukan upacara peringatan saja tapi juga mengaplikasikan keteladanan Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Mejelis Pimpinan Badan Kerjasama Pimpinan Pondok Pesantren (BKsPPI), Didin Hafidhuddin, menegaskan pada intinya maulid nabi itu bukan hanya sekedar memperingati hari kelahiran, tapi juga bagaimana umat Islam mempelajari sejarah dan teladan Nabi. "Kita harus ikuti teladan nabi baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat maupun negara," ujarnya kepada Republika, Senin (9/3).

Menurut Didin, ada empat sifat utama Rasulullah SAW yang harus diikuti oleh umat Islam. Pertama, Sidik yang berarti jujur. "Saat ini kita membutuhkan tokoh dan masyarakat yang jujur karena akan melahirkan kemakmuran," paparnya.

Kedua, fatonah yang berarti cerdas. Menurut Didin, masyarakat kita yang mayoritas umat Islam harus bisa memilih pemimpin yang cerdas yang berusaha meningkatkan pengetahuan. Ketiga, amanah yang berarti seorang yang profesional. "Nabi menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan kewajibannya. Dan tentu saja hal ini menimbulkan kepercayaan," ujarnya.

Teakhir, lanjut Didin, adalah sifat tablikh yang berarti menyampaikan. "Kita ini sebagai umat islam tidak boleh menyimpan kebaikan atau kebenaran sendiri, tapi harus disampaikan," tandasnya.

Didin mengatakan sifat-sifat tersebutlah yang sebaiknya diterapkan dimasyarakat. Tapi sayangnya kesadaran umat Islam akan hal itu masih minim.

"Saat ini sebagaian umat Islam ada yang memperingati maulid penuh penghayatan adapula yang hanya sekedar mengingat, tidak ada upaya untuk mempertajak makna maulid nabi itu secara substansial," jelasnya."Paling tidak kita bukan hanya mengingat pribadi Nabi SAW secara fisik tapi juga sepak terjangnya."

Hanya Pidato

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masykuri Abdillah, menurutnya maulid nabi yang berarti mengenang peristiwa kelahiran nabi harus direnungkan kembali. Tak hanya sekedar perayaan secara seremonial tapi juga diambil manfaatnya untuk membangun akhlak mulia. "Kelahiran nabi itu juga sebagai bimbingan umat Islam untuk bangkit dari kegelapan menjadi bersinar," katanya.

Peringatan kelahiran nabi ini ada dua dasar utama, pertama untuk membangun akidah dan kedua menjalankan syariahnya. "Dengan hadirnya sang Nabi, maka akhlak manusia terbangun, baik terhadap sesama maupun dengan Tuhan. Saat ini kita melihat kembali apakah yang dilakukan Nabi pada saat itu," jelasnya.

Masykuri menyayangkan saat ini sebagian umat Islam masih belum menyadari hal itu. Sebagian umat Islam belum memiliki akhlak yang baik. "Memang apa yang dilakukan Rasulullah tidak mudah terutama untuk masalah akhlak. Untuk saat ini memang banyak tantangannya," ujarnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin, turut menyatakan hal yang serupa. Menurutnya saat ini umat Islam lebih banyak melakukan upacara atau ceremonial peringatan Maulid Nabi SAW saja.

"Saat ini upacara peringatan Maulid hanya diisi pidato saja, tidak ada teladan yang kongkrit, actionnya tidak ada. Seharusnya Umat islam meneladani keteladanan Nabi, membangun akhlak mulia. Sekaligus melakukan harakatul Islah (gerakan perbaikan), baik perbaikan personal dan sosial kemasyarakatan dari segala bidang," tandasnya. -she/ahi(wsm/kutip/republika)


2 komentar:

Anonim mengatakan...

assalaamu'alaikum...
semoga Allah selalu membimbing kita semua

Maulid nabi jelas akan bid'ah nya. Tidak akan baik ummat ini selama masih menjunjung bid'ah dan melupakan sunnah rasul yang mulia 'alaihi sholatu wassalaam

Wassalaamu'alaikum

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum wr wb
tulisan ini sebagai bentuk sanggahan terhadap saudaraku yang berkomentar diatas,yang mengatakan "bahwa maulid itu bid'ah"
wahai saudaraku, pandangan itu telah lama dikumandangkan oleh sebagian golongan dari sejak dulu, tapi alangkah arifnya jika kita pada generasi saat ini tidak hanya taqlid dan percaya sepenuhnya terhadap pendapat tersebut.kalau kita telisik lebih jauh, bahwa nabi pun poernah merayakan maulid. sebagaimana ketika beliau nyelameti atas kedua cucu beliau sayid hasan dan husein. tlong baca lagi sebelum membid'ahkan sesuatu yang anda sendiri lum sepenuhnya faham hal tersebut.
by zainal (malang), email zainmuhammad@yahoo.co.id
kami mengajak berdiskusi tentang apapun. trim...

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda