Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

5.27.2009

Jurdil

Kata kunci kesuksesan pemilu mendatang terletak pada istilah jurdil yang akhir-akhir ini sering menghias bibir. Terdiri atas dua kosa kata: jujur dan adil, kemudian disingkat menjadi jurdil, merupakan simbol pemilihan umum yang bersih di era reformasi total ini. Pertama jujur, dalam term agama disebut sebagai as-Shidiq.

Abdul Mun'im Qandil dalam bukunya yang berjudul Rabi'ah al-Adawiyah, 'Adzrau al-Basrah al-Batul menyebutkan bahwa kejujuran itu merupakan kedudukan setingkat lebih rendah dari kenabian (nubuwwah). Dalam buku memoarnya yang mengupas figur sufi wanita kondang (Rabi'ah al-Adawiyah) itu, Qandil menyebutkan bahwa sifat jujur adalah cerminan dari bisikan hati yang bersih dalam ekspresi perkataan dan tindakan.

Dengan kata lain, jujur itu adalah sifat mental ''satunya kata dan perbuatan'' untuk menegakkan kebenaran. Karena ada persesuaian antara yang batin dan yang lahir, maka kebenaran dapat terpelihara dari segala hal. Ia berpendapat bahwa kebenaran berhajat atas kebenaran. Oleh karena itu, pepatah Arab klasik menyebutkan bahwa Ashshidqu yumbi-u'anka lal-wa'iida (kebenaran [senantiasa] memberitahukan Anda, bukanlah ketidakbenaran).

Kedua adil, yang dalam bahasa Arab bermakna 'sama'. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1988), kata ''adil'' diartikan berpihak kebenaran. Jika demikian halnya, yang dituju oleh -- baik jujur maupun adil (jurdil) tidak lain adalah kebenaran itu sendiri. Di dalam Alquran, sedikitnya ada empat potong ayat (yang dapat saya kutip di sini) memerintah kita agar berlaku adil. Seperti: ''Berlaku adillah, ia lebih dekat pada takwa!'' (QS 5:8). ''Dan jika kamu berkata-kata, maka berlaku adillah walaupun terhadap kerabat dekat!'' (QS 6:152). ''Dan hendaklah (ada) di antara kamu seorang penulis yang mencatat dengan adil,'' (QS 2: 282), serta ''Sungguh Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan),'' (QS 16:90). Yang terakhir ini senantiasa dikutip para khatib -- setiap shalat Jumat diselenggarakan pada akhir Khutbah Kedua.

Pemilu sudah dekat waktunya, maka tumbuh secercah harapan: moga-moga pelaksanaan pesta demokrasi ini dapat diwarnai dengan etika agama yang baik itu. Jurdil harus dimulai semua pihak dan harus dilaksanakan oleh semua pihak pula dengan secara konsekuen. Insya Allah sikap mental jurdil para kontestan yang sama-sama konsisten dengan komitmen kebenaran ini dapat menjamin suksesnya pemilu yang akan datang. Wallahu al-muwaffiq ila aqwam al-thariq.

-ahi

(wsm/kutip/REPUBLIKA)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda