Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

5.05.2009

Ma, Bantalnya Boleh Ikut ya?

JAKARTA-- Bagi orangtua yang memiliki anak usia bawah lima tahun (balita), melihat kebiasaan memegang atau membawa memiliki benda kesayangan menjadi pemandangan yang umum. Bisa jadi si kecil tak bisa lepas dari boneka atau bantal kesayangannya.

Misalnya, seorang gadis cilik bernama Nadia. Dia selalu selalu membawa bantal guling kucel yang digunkannya sejak bayi. Jika dia jauh dari barang kesayangannya itu, bisa jadi acara jalan-jalan jadi runyam.

Menurut Psikolog Anak dari I Love My Psychologist, Heryanti Satyadi M.Si, hal itu merupakan kondisi yang wajar. Beberapa anak melewati masa transisi ketergantungaannya dengan memiliki kebiasaan unik seperti ini. Saat bayi, dia sangat bergantung pada orang tua atau pengasuh yang menjadi bagian dari dirinya.

"Hal ini banyak terjadi pada anak-anak. Mereka melakukan inipun ada tujuannya. Biasanya untuk menimbulkan rasa aman. Biasanya kalau merekaa berada di luar rumah," ungkap Heryanti usai menjadi pembicara di Jakarta, kamis (16/4).

Ketika mereka bertambah usia dan harus lepas dari air susu ibu (ASI) maka banyak dari anak-anak membutuhkan objek transisi. Objek transisi tersebut bisa boneka, selimut, bantal atau benda lainnya. Dari benda-benda tersebuta anak mendapatkan kenikmatan, kenyamanan bahkan rasa aman.

Bagi anak-anak yang memiliki kebiasaan unik ini memang terasa wajar bagi mereka, tapi bagaimana dengan para orang tua? Tidak sedikit dari orang tua mengeluh karena malu anakya selalu membawa barang-barang yang terlihat tidak penting. Terlebih jika anak dibawa ke acara atau tempat yang banyak melibatkan interaksi sosial.

Heryanti mengatakan, kebiasaan unik anak semacam itu bisa diatasi dengan kemampuan orang tua untuk meningkatkan rasa percaya diri anak dan kemampuan anak untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan di luar rumah. Pada umumnya kebiasaan unik tersebut akan hilang dengan sendiri sejalan dengan berkembangannya kemandirian anak.

"Tingkat usia juga berpengaruh akan hilangnya kebiasaannya ini. Makin tinggi tingkat usia dan tingkat penalaran anak maka kebisaan tersebut bisa hilang. Karena pastinya anak yang berusia SMP atau SMA malu bawa benda kesayangan," papar Heryanti.

Namun, orang tua yang terlalu khawatir dan banyak melarang anak, sering memarahi anak dikatakan Heryanti pada akhirnya justru menghambat perkembangan kemandirian anak. Haryanti menegaskan, orang tua merupakan agen terpenting dalam menumbuhkan kemandirian dan rasa percaya diri anak.

Bila pada dasarnya kebiasaan unik anak dapat berhenti sejalan kemandirian anak, namun hal ini juga perlu dukungan dari orang tua.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menghilangkan kebiasaan unik yang terkadang dapat mengganggu. Cara yang dapat dicoba orang tua adalah:
Tidak terlalu membatasi anak. Awasi anak bila akan melakukan tindakan yang membahayakan diri maupun orang lain. Pastikan Anda masih dalam wilayah yang bisa menjangkaunya.
Memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan tugas sederhana sehingga anak merasa memiliki kemampuan.
Memberikan kesempatan pada anak bersosialisasi dengan teman-temannya. Cara ini yang dikatakan Heryanti membuat anak merasa malu ketika sudah besar tetapi masih memiliki ketergantungan dengan bantal atau benda lain.
Beri dorongan pada anak untuk pelan-pelan menghilangkan kebiasaan tersebut. Bantu anak dengan sesekali mengalihkan perhatian anak dari kebiasaan atau obejek transisi ke hal lain yang bersifat lucu dan menarik.
Kemajuan sekecil apa pun yang ditunjukan anak patut diberikan penghargaan sehingga termotivasi untuk semakin mengurangi kebiasaan tersebut. (cr1/rin)(wsm/kutip/republika)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda