Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

12.20.2008

Pembebasan WNI di Somalia Terkendala Bahasa Pasukan Internasional Bebaskan Kapal Tiongkok


JAKARTA - Sebelas awak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) yang disandera di perairan Somalia, tampaknya, butuh waktu lama untuk menghirup udara bebas. Belajar dari kasus-kasus sebelumnya, negosiasi yang dilakukan dengan pembajak diperkirakan memakan waktu 3-5 bulan.



''Pemerintah terus mengupayakan berbagai langkah agar sebelas WNI tersebut bisa segera diselamatkan,'' tegas Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah di Jakarta kemarin (19/12). Karena itu, dia minta semua pihak bisa bersabar untuk menanti perkembangan kasus tersebut.

Menurut dia, pemerintah terus melakukan koordinasi penyelamatan dengan berbagai pihak yang terlibat. Saat ini, Direktorat Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia membuat crisis center untuk berkoordinasi dengan pihak terkait.

''Crisis center itu akan terus diberlakukan hingga ada kontak dengan pemilik kapal. Crisis center juga melibatkan pemerintah Malaysia, perusahaan pemilik kapal, serta pemerintah Yaman dan Kenya,'' ujarnya.

Sebagaimana diwartakan, sebelas warga Indonesia yang bekerja sebagai ABK penarik (kapal tunda) Malaysia Indra Shipping dibajak perompak Somalia di perairan Yaman, Selasa (16/12). Saat itu, kapal mereka sedang disewa perusahaan minyak Prancis, Total.

Informasi mengenai data ABK diketahui dari perusahaan kapal Malaysia yang dihubungi kelompok bajak laut. ''Karena kendala bahasa, pemilik kapal menyewa penerjemah. Setidaknya sudah ada kontak (pembajak) dengan pemilik,'' katanya. Berdasar perkembangan terakhir yang diterima Deplu, saat ini belum ada tuntutan yang jelas. Tapi, kondisi para WNI sehat dan aman.

Meski begitu, dia mengaku Departemen Luar Negeri masih belum bisa merilis secara resmi identitas WNI yang menjadi korban. Sebab, pemerintah masih menunggu hasil verifikasi dan persetujuan pihak keluarga. ''Yang jelas, kesebelas ABK itu berasal dari Jawa dan Sulawesi dan rata-rata kelahiran 1960 hingga 1980,'' ungkapnya.

Pemerintah Indonesia juga sedang meneliti apakah ABK-ABK tersebut telah diasuransikan oleh pemilik kapal. Sebagai tenaga kerja asing yang bekerja di kapal, idealnya sebelas WNI tersebut telah diasuransikan.

Dari mancanegara, kapal Tiongkok Zhenhua 4, Rabu (17/12), berhasil diselamatkan pasukan internasional dari para pembajak. ''Saat pembajak datang, ada helikopter dari pasukan internasional yang datang membantu kami,'' tutur Kapten Zhenhua 4 Peng Weiyuan saat diwawancarai China Central Television.

Dia menceritakan, saat pembajak datang, krunya melakukan perlawanan seadanya. Mulai melemparkan botol hingga menggunakan meriam air. ''Ada tujuh hingga sembilan pembajak yang sempat mendarat di kapal kami. Semua bersenjata. Untung ada bantuan datang,'' ungkapnya. (jawapos.co.id)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda