Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

12.19.2008

Strategi Yahudisasi Kota Al Quds


Harian al Dustur edisi 22 November 2008 menyebutkan, seorang insinyur Israel di kota al Quds, Ory Shatrit, mengungkap tentang adanya rencana strategi yang disiapkan Israel untuk melakukan yahudisasi kota al Quds dari Agustus tahun 2004 hingga tahun 2020.

Tujuan dari rencana ini jelas, ungkap Shatrit. Yaitu yahudisasi al Quds (Jerusalem). Dia menegaskan bahwa al Quds adalah ibukota Israel dan harus tetap berada di bawah control politik Israel.



Saat memaparkan rencana Israel tahun 2020 ini Shatrit mengatakan, “Tujuan inilah yang ingin dicapai oleh Negara (Israel). Rencana yang diperoleh dari pemerintah kota al Quds dan sudah disetujui oleh Negara ini sudah diajukan. Diharapkan komposisi penduduk al Quds (Jerusalem) pada tahun 2020 30% Arab dan 70% Yahudi.”

Dia mengakui bahwa berdasarkan kondisi yang ada saat ini di kota al Quds, maka untuk mencapai tujuan ini dalam tahun-tahun dekat ini sulit untuk dicapai.

Dia mengatakan, “Peristiwa-peristiwa yang dilalui al Quds sejak tahun 1967 membuktikan sulitnya mencapai tujuan ini. Masalah ini nampak jelas pada tahun-tahun 1990-an, di mana hubungan prosentase antara Arab dan Yahudi sangat jauh dari yang diharapkan, yakni 30% dan 70%.”

Yahudikan al Quds, Hancurkan al Aqsha dan Dirikan Kuil

Sejak proklamasi berdirinya entitas negara zionis Yahudi pada tahun 1948 dan pengakuan terhadap entitas ini serta terhadap elemen pendukungnya, Israel merencanakan pengokohan perangkat-perangkat penopang bagi entitas ini dan menjadikan al Quds sebagai ibukotanya. Bersamaan dengan munculnya negara Israel, muncul konspirasi-konspirasi dan serangan-serangan permusuhan terhadap

masjid al Aqsha. Tujuannya, melenyapkan peta sejaran Palestina untuk kemudian membangun diatasnya kuil Sulaiman. Orang-orang Yahudi mulai mengangkat semboyan, "Tidak ada artinya bagi negara Israel tanpa kuil dan tidak ada artinya kuil jika masjid al Aqsha masih ada."
Berdasarkan sumber-sumber Palestina dan Israel, bahwa di sana ada 25 organisasi teroris zionis yang kesemuanya bekerja sepanjang waktu untuk menyahudikan al Quds dan mengusir warganya dari sana. Kemudian menghancurkan masjid al Aqsha dengan tujuan untuk mendirikan kuil di atasnya.

Selanjutnya dimaklumatkan bahwa kota al Quds (Jerusalem) adalah ibukota negara "Israel". Di samping itu bahwa negera "Israel" dengan insttusi-institusinya baik departemen maupun non departemen mendukung kelompok-kelompok teroris ini dan bergandengan tangan dengan anggota-anggota mereka yang radikal. Kemudian memberikan justifikasi setiap kejahatan yang mereka lakukan dalam orientasi ini. Berbagai upaya keji ini memiliki, paling tidak, tiga orientasi:

Pertama: Serangan terhadap al Aqsha

Aksi-aksi permusuhan ini terwujud dalam bentuk penggalian terowongan di bawah masjid al Aqsha yang telah dimulai sejak perang tahun 1967 (antara Arab dan Israel). Kala itu zionis Israel menguasai wilayah al Quds Timur (Jerusalem) dan menguasai seluruh wilayah Baitul Maqdis. Penggalian terowongan ini telah dimulai kala itu dengan dalih sebagai aktifitas biasa yang alasannya adalah untuk

mendapatkan manfaat ilmiyah dan kajian sejarah. Penggalian ini telah melewati 10 tahap yang meliputi seluruh bagian masjid al Aqsha. Sampai-sampai fondasi masjid al Aqsha hari ini kosong dan masjid berdiri di atas tiang-tiang semu yang akan sangat mudah runtuh begitu terkena goncangan dari gempa bumi, baik itu gempa biasa (alami) maupun buatan sebagaimana gempa yang pernah diuji cobakan zionis Israel di Nagev sebagai persiapan langkah yang sudah pasti.

Masjid al Aqsha juga mengalami berbagai aksi serangan pembakaran dan serangan-serangan permusuhan lainnya. Dan saat ini, dinas-dinas intelijen serta keamanan dalam negerai "Israel" mengungkapkan kekhawatirannya atas kemungkinan peledakan masjid al Aqsha oleh tangan-tangan

kaum radikal Yahudi. Meskipun di sana ada kemungkinan terjadi krisis internal Israel atau sanksi ekternal yang mendorong pemerintah penjajah Israel mengungkap kemungkinan-kemungkinan serangan ini, namun niat zionis yang keji untuk menghancurkan al Aqsha dan pembangunan Kuil tetaplah masih kokoh.

Kedua: Yahudisasi al Quds

Program yahudisasi al Quds telah mengambil berbagai arah orientasi dan trek, yang utamanya adalah merubah rambu-rambu dan margin-marginnya; menyahudikan sarana dan prasarana umum yang ada di al Quds; pemusatan institusi-institusi zionis Yahudi di al Quds seraya menghapus identitas dan budaya nasional lama al Quds; yahudisasi pendidikan, ekonomi dan peradilan; penggusuran rumah-rumah warga Palestina secara berkesinmbungan serta yahudisasi bangunan dan perumahan; melakukan rencana-rencana permukiman untuk para pendatang Yahudi baru secara berkesinambungan. Pemerintah Israel juga membuat sejumlah undang-undang di mana pokoknya adalah penggabungan al Quds (dalam wilayah Israel), undang-undang kepemilikan tanah yang ditinggalkan pemiliknya, undang-undang ganti rugi dan penuntutan kembali harta kekayaan orang

Yahudi, undang-undang alih kepemilikan dan undang-undang kembali ke tanah Israel. Zionis Israel juga melakukan perluasan al Quds dan membangun 'sabuk' permukiman Yahudi yang mengelilingi al Quds. Zionis Israel juga merekayasa pengusiran warga Palestina penduduk al Quds dengan dalih kondisi demografi. Memberlakukan kebijakan penutupan dan pengepungan serta berbagai jenis pungutan pajak. Terakhir zionis Israel membangun tembok pemisah rasial dengan pintu-pintu dan memberlakukan sistem keluar masuk al Quds lewat pintu-pintu ini. Semua itu tujuannya tidak lain adalah untuk memaksa warga Palestina di al Quds hengkang dan pergi secara perlahan untuk kemudian digantikan oleh orang-orang zionis Yahudi.

Tim Yahudisasi Al-Quds, dipimpin Renan Denor, yang juga ketua umum kantor PM Israel, akan segera menggelar rapat. Mereka akan membahas strategi taktis penerapan langkah yang telah disepakati rumusannya pada hari Ahad (13/5). Proyek besar Yahudisasi Al-Quds menelan biaya 5, 75 sheikel atau sekitar 1, 5 milyar dollar.

Menurut harian Haaretz berbahasa Ibrani, target proyek ini adalah menggesah kedatangan imigran

Yahudi ke Al-Quds (Jerussalem) untuk kemudian melakukan pendudukan di wilayah itu. Strategi ini sendiri, mencakup pemindahan semua kantor pemerintahan dan lembaga pemerintah –kecuali kementrian pertahaan—dari Tel Aviv dan kota lainnya, ke Al-Quds dalam rentang waktu 8 tahun. Pemindahan kantor pemerintah itu juga akan memindahkan sekitar 10 ribu orang pegawai negeri untuk menempati rumah tinggal di Al-Quds.

Bila ini terjadi, berarti Al-Quds akan mengalami peningkatan penduduk dalam jumlah besar. Dan secara demografis, Al-Quds akan didominasi oleh Yahudi, ditambah 40 ribu orang Yahudi yang saat ini sudah menduduki Al-Quds. Menurut hitungan terakhir Pusat Statistik Palestina, jumlah penduduk

Palestina di Al-Quds mencapai 416 ribu jiwa di tahun 2007. Di antara mereka, 258 ribu orang tinggal di Al-Quds Timur, dan 158 ribu orang tinggal di berbagai wilayah lainnya di Al-Quds.
Selain itu, proyek Yahudisasi Al-Quds juga akan melakukan pengembangan wilayah pabrik di wilayah

Trout, utara kota. Departemen Pendidikan Israel, sesuai isi strategi ini, mewajibkan semua siswanya untuk mengunjungi Al-Quds dan mengenal lebih jauh kedudukan Al-Quds. Di sisi lain, ada anggaran khusus juga untuk mendorong para siswa universitas dengan menyewakan hotel dan penginapan di jantung Al-Quds.

Untuk mendorong perpindahan ke Al-Quds, Israel juga memberikan solusi berbagai problematik ekonomi dan sosial sebagai antisipasi bagi penduduk yang datang. Pemerintah kota Al-Quds akan memberikan bantuan sebesar 50 juta dollar guna mendirikan berbagai proyek ekonomi di Al-Quds. Haaretz menyebutkan bahwa Israel merencanakan membangun lebih dari 20 ribu rumah di dua wilayah sisi Timar Al-Quds.

Ketiga: Pembangunan Kuil

Zionis Yahudi berpendapat bahwa tidak ada artinya bagi negara "Israel" tanpa pembangunan kuil.

Mereka sekarang ini tengah bersiap-siap untuk membangun ini dan mengumpulkan dengeng-dongeng mereka yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menunda pembangunan kuil melebihi tahun 2005. Itu karena mereka berkeyakinan bahwa turunnya al Masih sudah dekat. Tidak boleh terjadi al Masih datang sementara kuil belum ada. Saat ini mereka telah menyiapkan batu-batu kuil sebagaimana halnya mereka juga telah menyiapkan contoh repilika kuil yang akan dibangun. Mereka tengah

menunggu-nunggu kesempatan yang tetap untuk memasukan batu-batu ini ke dalam Baitul Maqdis dan memulai pembangunan kuil. Namun mereka menolak melakukan pembangunan kuil dengan kewujudan masjid al Aqsha. Oleh kerena itu mereka berpendapat harus dilakukan penghacuran masjid al Aqsha terebih dahulu kemudian baru dibangun kuil setelah itu. Kita telah membaca dan mendengar skenario-skenerio radikal zionis yang diajukan untuk menghancurkan masjid al Aqsha. Di antara mereka ada yang berpendapat dengan menciptakan gempa buatan dekat dengan masjid untuk meruntuhkan masjid. Kemudian setelah itu zionis Yahudi mengklaim bahwa itu adalah gemba alami.

Di antara mereka ada yang berpendapat dengan meledakannya dengan bom. Dan di antara mereka ada yang berpendapat dengan serangan pesawat atau dengan rudal dan lain sebagainya.

Begitulah, bahwa kita mendapati yahudisasi al Quds, penghancuran masjid al Aqsha dan pembangunan kuil adalah strategi zionis untuk satu skenario.

Sinagog ini telah dibangun sejak 10 tahun lalu. Pembangunannya dimulai pada tahun 1996, yang kala itu sempat menyulut aksi kekerasan hingga mengakibatkan puluhan warga Palestina gugur dan terluka.

Sebuah lembaga yang dibentuk rezim penjajah Israel mengklaim, Sinagog ini telah dibangun untuk menerangi rumah-rumah di sekitar al-Quds selama lebih 3 ribu tahun dalam sejarah Yahudi.
Lembaga Wakaf Islam di al-Quds menentang adanya Sinagog di bawah al-Quds ini. Direktur Wakaf

Islam al-Quds, Adnan Husaini mengatakan, “Aktivitas penggalian terhadap peninggalan (yang diklaim Yahudi) tersebut ilegal. Mereka melakukan ini semua dengan menggunakan kekuasaan dan kekuatan. Mereka hendak melemahkan pondasi masjid al-Aqsha dan menciptakan kerusakan yang besar pada bangunan-bangunan yang ada di atas terowongan.”

Menurut Husaini, tidak tertutup kemungkinan adanya Sinagog yang oleh orang Yahudi disebut “Jabal Haikal” ini akan memicu aksi protes keras dari kaum muslimin. Dia mengatakan, kemungkinan-kemungkinan itu sangat terbuka. Demikian dia mengingatkan.

Sementara itu Ketua Harakah Islamiyah di Palestina ’48, Syaikh Raed Shalah mengatakan bahwa penggalian yang sudah di mulai di bawah masjid al-Aqsha sejak tahun 1967 ini sampai hari ini masih terus dilakukan, setelah dibangun Sinagog Yahudi di bawah masjid al-Aqsha yang terdiri dari dua tingkat untuk laki-laki dan wanita (tahun 1996). Hadir dalam pembukaan pembangunan Presiden Israel Moshe Katzav.

Syaikh Shalah menambahkan, penggalian-penggalian itu telah menyebar bercabang-cabang dari arah bawah masjid dan dengan kedalaman yang berbeda-beda. Penggalian telah dimulai ke berbagai arah menjauh dari masjid. Mereka menggali terowongan yang menghubungkan antara terowongan-terowongan yang ada di bawah masjid dengan kampung Silwan yang berdampingan dengan masjid.

Juga dengan terowongan-terowongan panjang dari bawah masjid hingga ke gedung-gedung milik tokoh utama Yahudi di Parlemen dan pemerintah. Selain itu juga ke rumah tokoh-tokoh Yahudi yang melakukan ritual di dalam Sinagog tersebut.

Menurut Syaikh Shalah, pembangunan Sinagog Yahudi di bawah masjid al-Aqsha ini dilakukan sesuai dengan klaim-klaim Yahudi terkait dengan Kuil Sulaiman. Untuk itu, mereka membangun Sinagog ini dengan dalih untuk menghidupkan peringatan Kuil Pertama dan Kedua.

Awal tahun ini, Syaikh Shalah telah memaparkan gambar video yang menegaskan pendirian bangunan tersebut, yang membentang panjang dan kedalamannya berbeda-beda di bawah masjid al-Aqsha, hingga mencapai 95 meter dari Kubah Shakhra. Pihak rezim penjajah Israel mengklaim, bangunan ini bukanlah Sinagog namun bangunan bersejarah untuk mengungkap apa yang ada di bawah al-Quds.
Saat awal pembukaan pembangunan Sinagog ini pada tahun 1996 telah menyulut meletusnya

“intifadhah terowongan”. Dimulai dari al-Quds dan meluas hingga menyebar ke seluruh wilayah Palestina. Dalam tragedi ini kurang lebih 90 warga Palestina gugur sementara 13 serdadu Israel tewas.(sabili.co.id)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda