Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

12.29.2008

SELAMAT TAHUN BARU 1 MUHARAM 1430 H

Sebuah Kado sederhana menyambut Tahun baru 1430 H

Diluar rasa gemas terhadap seringnya terjadi perbedaan dalam penetapan awal puasa maupun lebaran di negeri ini, sebenarnya sistem penanggalan Hijriyah mengandung banyak manfaat besar bagi umat Islam. Baik dari segi pelaksanaan peribadatan seperti Puasa, Haji beserta 2 Hari Raya yang menyertainya, maupun dari sisi lain yakni isyarat-isyarat sumir serta berbagai makna simbolik yang bisa digali dari kedalaman kandungan maknanya.

Setiap tahun rata-rata kalender Hijriyah maju 11 hari dibandingkan kalender Masehi. Dengan perhitungan kasar maka 32 tahun Masehi adalah setara dengan 33 tahun Hijriyah. Mengingat bahwa musim-musim yang ada di muka bumi erat kaitannya dengan sistem penanggalan matahari, maka dalam rentang 32 tahun itu kita bisa merasakan ibadah-ibadah maupun perayaan-perayaan tersebut dalam berbagai musim (kecuali haji yang terbatas kuotanya). Sebagai contoh; Andaikan anda tinggal di negara dengan 4 musim. Dalam rentang 32 tahun, anda akan mendapatkan jatah 8 tahun berturut-turut melaksanakan puasa atau haji pada musim tertentu yang berbeda dari 3 musim yang lain. Dan tahukah anda, bahwa di dalam al-Qur'an kata yang diterjemahkan sebagai matahari itu, yang berasal dari akar{syin, mim, sin} hadir 32 kali dalam bentuk as-syams dan 1 kali dalam bentuk syamsan sehingga berjumlah 33 kali? Subhanallah.Diluar rasa gemas terhadap seringnya terjadi perbedaan dalam penetapan awal puasa maupun lebaran di negeri ini, sebenarnya sistem penanggalan Hijriyah mengandung banyak manfaat besar bagi umat Islam. Baik dari segi pelaksanaan peribadatan seperti Puasa, Haji beserta 2 Hari Raya yang menyertainya, maupun dari sisi lain yakni isyarat-isyarat sumir serta berbagai makna simbolik yang bisa digali dari kedalaman kandungan maknanya.

Setiap tahun rata-rata kalender Hijriyah maju 11 hari dibandingkan kalender Masehi. Dengan perhitungan kasar maka 32 tahun Masehi adalah setara dengan 33 tahun Hijriyah. Mengingat bahwa musim-musim yang ada di muka bumi erat kaitannya dengan sistem penanggalan matahari, maka dalam rentang 32 tahun itu kita bisa merasakan ibadah-ibadah maupun perayaan-perayaan tersebut dalam berbagai musim (kecuali haji yang terbatas kuotanya). Sebagai contoh; Andaikan anda tinggal di negara dengan 4 musim. Dalam rentang 32 tahun, anda akan mendapatkan jatah 8 tahun berturut-turut melaksanakan puasa atau haji pada musim tertentu yang berbeda dari 3 musim yang lain. Dan tahukah anda, bahwa di dalam al-Qur'an kata yang diterjemahkan sebagai matahari itu, yang berasal dari akar{syin, mim, sin} hadir 32 kali dalam bentuk as-syams dan 1 kali dalam bentuk syamsan sehingga berjumlah 33 kali? Subhanallah.

Seandainya ibadah seperti puasa dilaksanakan berdasarkan kalender matahari, maka tentu akan banyak yang merasa dirugikan atau diuntungkan. Tergantung pada posisi daerahnya di muka bumi, maka akan ada yang merasa dirugikan karena pelaksanaan puasa hanya jatuh di musim panas / kering saja yang siangnya lebih panjang. Adapula daerah lain mungkin lebih diuntungkan karena jatuhnya kewajiban itu di musim dingin yang siangnya relatif lebih pendek. Maka penetapan memakaikan standar penanggalan bulan itu, yang bergeser maju 11 hari setiap tahunnya, memberikan sebentuk keadilan, pergiliran berat dan ringan. Semua pernah dan akan pernah merasakan berbagai kesulitan maupun kemudahan yang serupa, dari berbagai musim yang berbeda. Subhanallah.

Dengan pengecualian adanya manusia2 yang berumur pendek ataupun sebaliknya sangat panjang. Secara umum umur manusia berada pada rentang 50-70 tahun. Artinya secara rata-rata manusia merasakan dua siklus 32 tahunan bulan-matahari dalam rentang usia hidupnya. Merasakan dua kali rentang 8 tahun berturut-turut melaksanakan ibadah pada musim yang sama, berat maupun ringan. Masyaallah. Bukankah ini berarti hidup itu adalah kesempatan kedua? Memperbaiki kesalahan atau sekurang-kurangnya kegagapan masa lalu. Mengulang kembali setting yang sama dengan kesadaran yang lebih tinggi serta persiapan yang lebih matang. Bahkan gigipun adalah gigi susu terlebih dahulu. Sehingga ketika mendapatkan gigi yang baru, yang lebih kuat serta berakar dalam, mampu memetik pelajaran dari pengalaman buruk, kegagalan masa lalu. Sadar serta mampu menjaganya supaya tetap fungsional selama dibutuhkan. Subhanallah.

Usia 32 tahun (Syamsiah) atau 33 tahun (Qamariyah) adalah usia kelahiran kembali. Usia mulainya siklus kedua. Bahkan Nabi SAW sendiri yang diangkat menjadi rasul di usia yang ke-40 mulai mendapatkan mimpi-mimpi yang benar semenjak 7 tahun menjelang kerasulannya. Doesn't it ring a bell? Secara pengalaman kita mafhum, bahwa usia 7 tahunan adalah usia mulai mempunyai kesadaran diri. Mulai dikenalkan pada kewajiban agama, identik dengan usia 40 tahun dalam siklus kedua. Ada sebuah ujaran yang sangat terkenal, life begin at fourthy. Cukup bermakna barangkali. Apalagi ada ayat-ayat yang berbicara mengenai manusia di titik kritis hidupnya itu di usia yang ke-40 itu; (Q:46:15-19). Ia dipersimpangan, memilih antara 2 jalan, ketundukan atau kekafiran kepada Allah. Kontemplasi dari semua bentuk pengalaman dan ide yang pernah menyinggahi dirinya.

Diakui bahwa Nabi Ibrahim as. telah melakukan kontemplasi serupa di usia yang jauh lebih muda. Sementara Nabi Muhammad SAW baru mengadakan kontemplasi serius menjelang mendekati masa kerasulannya di gua Hira'. Tapi Nabi Ibrahim as. yang mestinya telah menjadi syuhada di masa mudanya itu, tidak diijinkan untuk berangkat terburu-buru. Allah menyelamatkannya dengan mukjizat tidak terpanggang api. Tugas beliau belum selesai, yakni untuk mengajak lebih banyak manusia lain ke jalan Allah. Meskipun pada akhirnya tidak banyak yang jadi pengikutnya, namun pesannya cukup jelas. Bahwa agama itu pada titik puncaknya adalah bukan jumlah pengikut, melainkan telah disampaikan dengan terang dan cara-cara yang baik serta dewasa kepada manusia yang berhak menerimanya. Namun pada akhirnya, Allah hendak menjadikan Islam itu sebagai agama yang besar. Untuk seluruh umat manusia, tak kan ada lagi utusan baru setelah itu. Maka, tidak sembarang manusia bakal mampu memikul tugas maha berat tersebut. Itulah barangkali alasan kenapa Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul setelah beliau matang terlebih dahulu ditempa kehidupan. Membuktikan dirinya sebagai pribadi yang mulia, al-Amin. Beliau junjungan kita, Baginda Rasulullah saw, rahmatan li al-`alamin. Salaamun `alaik ya Rasulallah. Salaamun `alaik.

Saudaraku.... rahimakumullah...

Tahun ini, Tahun Baru 1430 Hijriyah akan hadir sekitar tanggal 29 Desember 2008. Beberapa hari lebih awal daripada Tahun Baru 2009 Masehi. Tanpa ikut-ikutan latah mengadakan perayaan-perayaan fisik sampai pagi hari seperti perayaan Tahun Baru masehi itu, mari kita ambil semangatnya, perayaan spiritual atas pertambahan umur dan pendalaman makna. Semestinya kita yang mendasarkan ritual pada penanggalan bulan yang setahunnya lebih singkat 11 hari daripada penanggalan matahari, bisa berpacu sedikit lebih cepat. Kita mulai dengan semangat baru simbolik tahun 1430 H ini yang lebih awal beberapa hari dari tahun 2009 M. Dalam race yang sangat kompetitif di muka bumi ini, beda pemenang dan yang kalah hanyalah beda yang sangat tipis sepersekian detik. Tapi perbedaan yang kecil itu berdampak besar. Dan jatuhnya waktu kewajiban ibadah di musim-musim yang berbeda juga mengisyaratkan, seharusnya kita tak bergantung pada musim serta kondisi tertentu. Semua bergulir, bergilir, disaat lapang maupun sulit, nyalakan api semangat yang sama.

Seandainya ibadah seperti puasa dilaksanakan berdasarkan kalender matahari, maka tentu akan banyak yang merasa dirugikan atau diuntungkan. Tergantung pada posisi daerahnya di muka bumi, maka akan ada yang merasa dirugikan karena pelaksanaan puasa hanya jatuh di musim panas / kering saja yang siangnya lebih panjang. Adapula daerah lain mungkin lebih diuntungkan karena jatuhnya kewajiban itu di musim dingin yang siangnya relatif lebih pendek. Maka penetapan memakaikan standar penanggalan bulan itu, yang bergeser maju 11 hari setiap tahunnya, memberikan sebentuk keadilan, pergiliran berat dan ringan. Semua pernah dan akan pernah merasakan berbagai kesulitan maupun kemudahan yang serupa, dari berbagai musim yang berbeda. Subhanallah.

Dengan pengecualian adanya manusia2 yang berumur pendek ataupun sebaliknya sangat panjang. Secara umum umur manusia berada pada rentang 50-70 tahun. Artinya secara rata-rata manusia merasakan dua siklus 32 tahunan bulan-matahari dalam rentang usia hidupnya. Merasakan dua kali rentang 8 tahun berturut-turut melaksanakan ibadah pada musim yang sama, berat maupun ringan. Masyaallah. Bukankah ini berarti hidup itu adalah kesempatan kedua? Memperbaiki kesalahan atau sekurang-kurangnya kegagapan masa lalu. Mengulang kembali setting yang sama dengan kesadaran yang lebih tinggi serta persiapan yang lebih matang. Bahkan gigipun adalah gigi susu terlebih dahulu. Sehingga ketika mendapatkan gigi yang baru, yang lebih kuat serta berakar dalam, mampu memetik pelajaran dari pengalaman buruk, kegagalan masa lalu. Sadar serta mampu menjaganya supaya tetap fungsional selama dibutuhkan. Subhanallah.

Usia 32 tahun (Syamsiah) atau 33 tahun (Qamariyah) adalah usia kelahiran kembali. Usia mulainya siklus kedua. Bahkan Nabi SAW sendiri yang diangkat menjadi rasul di usia yang ke-40 mulai mendapatkan mimpi-mimpi yang benar semenjak 7 tahun menjelang kerasulannya. Doesn't it ring a bell? Secara pengalaman kita mafhum, bahwa usia 7 tahunan adalah usia mulai mempunyai kesadaran diri. Mulai dikenalkan pada kewajiban agama, identik dengan usia 40 tahun dalam siklus kedua. Ada sebuah ujaran yang sangat terkenal, life begin at fourthy. Cukup bermakna barangkali. Apalagi ada ayat-ayat yang berbicara mengenai manusia di titik kritis hidupnya itu di usia yang ke-40 itu; (Q:46:15-19). Ia dipersimpangan, memilih antara 2 jalan, ketundukan atau kekafiran kepada Allah. Kontemplasi dari semua bentuk pengalaman dan ide yang pernah menyinggahi dirinya.

Diakui bahwa Nabi Ibrahim as. telah melakukan kontemplasi serupa di usia yang jauh lebih muda. Sementara Nabi Muhammad SAW baru mengadakan kontemplasi serius menjelang mendekati masa kerasulannya di gua Hira'. Tapi Nabi Ibrahim as. yang mestinya telah menjadi syuhada di masa mudanya itu, tidak diijinkan untuk berangkat terburu-buru. Allah menyelamatkannya dengan mukjizat tidak terpanggang api. Tugas beliau belum selesai, yakni untuk mengajak lebih banyak manusia lain ke jalan Allah. Meskipun pada akhirnya tidak banyak yang jadi pengikutnya, namun pesannya cukup jelas. Bahwa agama itu pada titik puncaknya adalah bukan jumlah pengikut, melainkan telah disampaikan dengan terang dan cara-cara yang baik serta dewasa kepada manusia yang berhak menerimanya. Namun pada akhirnya, Allah hendak menjadikan Islam itu sebagai agama yang besar. Untuk seluruh umat manusia, tak kan ada lagi utusan baru setelah itu. Maka, tidak sembarang manusia bakal mampu memikul tugas maha berat tersebut. Itulah barangkali alasan kenapa Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul setelah beliau matang terlebih dahulu ditempa kehidupan. Membuktikan dirinya sebagai pribadi yang mulia, al-Amin. Beliau junjungan kita, Baginda Rasulullah saw, rahmatan li al-`alamin. Salaamun `alaik ya Rasulallah. Salaamun `alaik.

Saudaraku.... rahimakumullah...

Tahun ini, Tahun Baru 1430 Hijriyah akan hadir sekitar tanggal 29 Desember 2008. Beberapa hari lebih awal daripada Tahun Baru 2009 Masehi. Tanpa ikut-ikutan latah mengadakan perayaan-perayaan fisik sampai pagi hari seperti perayaan Tahun Baru masehi itu, mari kita ambil semangatnya, perayaan spiritual atas pertambahan umur dan pendalaman makna. Semestinya kita yang mendasarkan ritual pada penanggalan bulan yang setahunnya lebih singkat 11 hari daripada penanggalan matahari, bisa berpacu sedikit lebih cepat. Kita mulai dengan semangat baru simbolik tahun 1430 H ini yang lebih awal beberapa hari dari tahun 2009 M. Dalam race yang sangat kompetitif di muka bumi ini, beda pemenang dan yang kalah hanyalah beda yang sangat tipis sepersekian detik. Tapi perbedaan yang kecil itu berdampak besar. Dan jatuhnya waktu kewajiban ibadah di musim-musim yang berbeda juga mengisyaratkan, seharusnya kita tak bergantung pada musim serta kondisi tertentu. Semua bergulir, bergilir, disaat lapang maupun sulit, nyalakan api semangat yang sama.(wsm/ktp/NET)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda