Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

1.29.2009

Aku Pemimpin, Karenanya Aku Melayani

Berbicara kepemimpinan pria, akan ada yang menghadapkannya dengan bahasan emansipasi wanita. Padahal keduanya bukan sebuah pertentangan sehingga tak usah diperdebatkan. Kepemimpinan lelaki dan kewajiban memuliakan wanita, sama-sama ada nash-nya dalam Al-Qur’an. Sama-sama diperintah dan dicontohkan oleh Rosululloh. Karena sebelum gagasan emansipasi itu populer oleh Ibu kita Kartini, Islam sudah mencatatkannya lewat pribadi-pribadi muslimah salafusshalih yang menjadi bunga kehidupan di zamannya. Jauh berabad-abad yang lalu.

Mari kita tengok potongan-potongan sejarah yang mencatatkan tentang kebebasan yang memuliakan (bukan yang menghinakan) para wanita muslimah. Ibunda Khadijah adalah seorang wanita pebisnis yang bisnisnya mengggurita kemana-mana. Bisnis yang dipimpin beliau sudah berskala internasional. Pasar bisnisnya hingga keluar kota Mekkah, perdagangannya eksport-import. Muhammad muda sempat merasakan menjadi pegawai pemasaran bisnisnya ke luar negeri, kota Syam.


Aisyah tak kalah, beliau menjadi rujukan fiqih dan nasehat oleh para sahabat-sahabat Rosululloh pasca beliau meninggal dunia. Kita juga mendengar bagaimana Asma’ Binti Abu Bakar, keluar masuk kota madinah sekedar membantu kebutuhan keluarga dengan mengambil biji-bijian di pinggiran kota Madinah. Wanita-wanita muslimah juga ikut berjuang di medan perang, dengan posisi sesuai kodrat kelembutannya, yaitu garda belakang sebagai bagian logistik dan medis.

Itulah sedikit contoh. Merekalah generasi mulia wanita-wanita muslimah. Mereka mengharapkan Surga sebagaimana para lelaki mengharapkan Surga. Mereka menakuti Neraka dan pucat pasi sebagaimana para lelaki pucat pasi ketika mengingatnya. Mereka bersemangat karena keadilan Alloh menyamakan dengan kaum pria tentang janji kemuliaan akhirat. Mereka letakkan emansipasi sebagai jalan menuju kemuliaan kodratnya. Bukan justru menjadikannya sebagai jalan menjerumuskan diri ke dalam kehancuran hidup, dunia maupun akhirat. Mereka bergerak sesuai ruang yang diberikan Alloh kepadanya. Tidak berlebih-lebihan dan juga tidak mengharami hak-hak kebebasan yang sudah diberikan kepadanya. Disinilah emansipasi islami itu membuahkan keindahan, kemaslahatan dan keselamatan.

SUAMI SEBAGAI PEMIMPIN RUMAH TANGGA

Sekarang kita berbicara Rumah Tangga, Islam memuliakan wanita karenanya Islam menjadikan pria sebagai pemimpinnya. Loh kok bisa?
Kita akan mengurainya terlebih dahulu melalui sudut pandang hak dan kewajiban. Kebanyakan kita, hanya melihat kepemimpinan dari satu sisi saja. Yaitu mengenai betapa enaknya “hak” yang mereka terima. Kita sentimen dengan fasilitas-fasilitas, ruang gerak, serta pengakuan-pengakuan yang di-hak-i oleh seorang pemimpin. Kita lupa bahwa di balik itu ada tanggungjawab besar, yang sudah barang tentu, kalau dikaitkan dengan amanah, maka ia tersambung dengan pertanggungjawaban akhirat. Rosululloh bersabda : “setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggunjawaban”

Alloh ta’ala menjadikan lelaki sebagai pemimpin dari wanita, karena Dia Yang Maha Mencipta telah memberi potensi kemampuan menerima tanggung jawab besar tersebut. Salah satu tanggungjawab tersebut adalah wajib hukumnya memberikan nafkah bagi keluarga. (Hadist)

Satu lagi tanggungjawab lebih besar daripada kewajiban menafkahi, yaitu menyelamatkan seluruh pribadi dalam rumah tangga yang dipimpinnya dari siksa Neraka. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim : 6).

Suamilah yang mempunyai kewajiban utama mendidik istri, anak-anak serta membina rumah tangga dalam bingkai ketaatan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Bila sebagian suami-suami masa kini melalaikan tanggungjawab kepemimpinannya dalam urusan ketaatan kepada Alloh, bukan berarti beban itu hilang dari pundaknya. Beban itu tetap ada untuk dipertanggungjawabkan nanti di akhirat. Dengarkanlah ratapan seorang yang mengerti beratnya amanah yang dibebankan dipundaknya, Umar bin Khattab :
Peran membimbing, mengarahkan, dan mendidik menjadi tanggungjawab pemimpin. Walaupun pada keadaan lain, istri juga memiliki peran tersebut. Mari kita melihat dari perspektif lain hadist berikut ini : “Semoga Alloh memberikan rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun pada sebagian malam kemudian sholat dan membangunkan istrinya dan ia juga sholat, bila istrinya enggan ia memercikkan air dimukanya. Semoga Alloh juga memberikan rahmat kepada seorang wanita yang bangun pada sebagian malam kemudian sholat, juga membangunkan suaminya lalu ia sholat, bila suaminya enggan ia memercikkan air dimukanya” (HR. Abu Dawud)

Apa yang kita lihat dari hadist tersebut selain keutamaan sholat tahajjud?. Ya, ada dua makna yang bisa kita ambil. Satu makna kepemimpinan seorang suami dan kedua makna kebersamaan dalam melakukan ketaatan kepada Alloh.
Dalam susunan hadist tersebut, kalimat tentang suami membangunkan istri untuk bertahajjud lebih dahulu sebelum istri yang membangunkan suami. Yang disebut pertama memberi makna kelaziman atau kadar keharusannya di atas yang kedua. Kita bisa katakan, bahwa dalam situasi tersebut suami sedang melayani (membangunkan) istri.
Begitulah makna memimpin. Memimpin bukanlah dilayani. Bukannya ia dibangunkan tapi harus membangunkan.

Kedua, makna kebersamaan dalam melakukan ketaatan kepada Alloh. Biarpun suami adalah pemimpin dan pembimbing kebaikan bagi istri, bukan tidak mungkin terkadang kadar iman suami lebih rendah daripada istri. Sholat tahajjud lebih semangat istri daripada suami. Sedekah lebih ringan istri daripada suami. Menjaga lisan lebih bisa istri daripada suami. Maka dalam kondisi seperti ini istri harus mengambil peran untuk mendorong suami melakukan amal kebaikan.

Begitulah kepemimpinan rumah tangga. Karena sekali lagi kepemimpinan yang dimaksud bukan untuk meraup hak-hak kepemimpinannya, seperti dilayani dan dihormati oleh istri. Kepemimpinan suami membawa misi menjalankan tanggungjawab yang oleh karenanya siapapun harus mengingatkan bila ia lupa terhadap misinya tersebut. Ehm, termasuk suami yang mendengkur di atas kasur, sekali-kali perlu juga diperciki air (catat! Bukan disiram).

AKU MEMIMPIN KARENANYA AKU MELAYANI

Paradigma kepemimpinan inilah yang harusnya juga menghiasi pribadi seorang lelaki sebagai suami. Bukan hanya menuntut dan disisi lain melalaikan tanggunjawab. Kita adalah abdi bagi keluarga kita. Menyediakan seluruh energi, baik materi, fikiran dan tenaga untuk membawa keluarga kita bahagia di dunia dan akhirat. Suami harus menyediakan tempat tinggal yang walau tak besar dan masih kontrak tapi nyaman dibuat ibadah, menyediakan makanan untuk keluarga agar mereka kuat tegak berdiri menjalankan sholat, suami harus membelikan bajunya istri agar ia bisa menutup aurat, menyekolahkan anak dan banyak lagi pelayanan-pelayanan yang lain.

Tak bijak bila kita hanya melihat dan mencari sandaran dalil-dalil bahwa wanita itu harus taat kepada suami. Ketahuilah, itu sekedar hak suami yang diberikan Alloh agar kita bisa menjalani roda kepemimpinan dengan baik. Tapi sebelum melihat hak-hak itu, ada baiknya suami menatap segala tanggungjawab yang Alloh bebankan kepadanya. Sudahkah dijalankan dengan baik?

Kepemimpinan diukur bukan dari seberapa mampu kita menghabiskan seluruh hak kita. Bukan seberapa besar ketaatan istri. Bukan seberapa mampu kita memanfaatkan kebolehan menikah lagi. Ah, bukan.

Di sisi lain, tak mungkin pula kepemimpinan yang melayani itu berjalan dengan sempurna tanpa ada ketaatan dari Istri. Melayani bukan dimaksudkan suami harus berada di lutut istri. Bukan memuliakan istri seperti majikan dan suami sebagai bawahan. Bagaimanapun pada praktiknya istri adalah pihak yang harus patuh sepenuhnya pada suami.

Melayaninya seorang pemimpin itu tak seperti melayaninya budak. Melayani bagi seorang pemimpin rumah tangga adalah semangat untuk membimbing, mencari sumber-sumber fasilitas pelayanan terbaik seperti nafkah tempat tinggal, pakaian layak dan makanan. Pelayanan seorang pemimpin adalah pelayanan yang bervisi jangka panjang dan cerdas. Bukan pelayanan seorang budak yang bersifat merendahkan diri dan tak mau tahu apakah pelayanannya menyelamatkan ataupun menjerumuskan.
Aku memimpin karenanya aku melayani. Begitulah seharusnya kita. Maka para suami ada baiknya membatasi sikap minta dilayani bergaya raja di atas singgasana. Menghadirkan kerja sama dan saling melayani, InsyaAlloh, itu akan lebih mendekatkan kita pada barokah. Wallohu ‘alam bisshowab.
(wsm/ktp/nh)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda