Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

1.29.2009

Rumah Tangga Harmoni atau Rumah Tangga Islami?

Pilih mana? Rumah tangga harmoni atau rumah tangga Islami. Ah, tak layak ditanyakan. Siapapun tahu keduanya adalah satu kesatuan. Jika rumah tangga itu Islami, pastinya ia akan menghadirkan keharmonisan. Keduanya saling berkaitan seperti dua sisi mata uang. Berhubungan sebagai sebab-akibat.

Rumah tangga Islami ialah rumah tangga yang didalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik yang menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Rumah tangga Islami, kata ustadz Tjahyadi Takariawan dalam buku “Pernak-Pernik Rumah Tangga Islami”, adalah sebuah rumah tangga yang didirikan atas landasan ibadah, mereka bertemu dan berkumpul karena Alloh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah yang munkar karena kecintaan mereka kepada Alloh.

Pengertian di atas, dalam pengimplementasiannya bisa beraneka ragam. Ada yang cukup menganggap jika semua keluarga bisa sholat lima waktu, puasa romadhon, menutup aurat maka itu sudah dikatakan rumah tangga berlandaskan Islam. Ada yang memberi ukuran diatasnya lagi, misalkan menghidupkan ibadah-ibadah sunnah dirumah, komitmen serius memberikan kontrol ketat terhadap televisi, bersungguh-sungguh menjaga akhlak, aktif dalam dunia dakwah dan lain sebagainya.

Kalau perbedaan itu muncul disebabkan faktor ketidaktahuan, karena belum mendalami Islam secara kaffah, maka solusinya adalah menambah ilmu. Baca buku atau mendengar ceramah-ceramah tentang ibadah secara hakikat dan syariat. Tapi bagaimana dengan yang belajar saja enggan, komitmen mereka ke arah rumah tangga islami lemah bahkan hampir tidak ada.

Inilah kenapa kita bertanya “pilih mana rumah tangga harmoni atau rumah tangga Islami?”. Karena kenyataannya memang banyak yang beranggapan “membentuk rumah tangga harmoni tak harus Islami”.

Agama bukan satu-satunya alternatif untuk mendapat ketentraman rumah tangga (?)
Dalam setiap biduk rumah tangga, ada perbedaan tingkat keyakinan terhadap hubungan positif antara membina rumah tangga islami dengan ketentraman keluarga. Setidaknya kita bisa melihat, karena ketidakyakinan itu, tak sedikit mereka yang berstatus muslim tapi menjalani pernikahan tanpa atau tidak terlalu menancapkan komitmen “rumah tangga islami” di keluarganya. Sejak awal pernikahan sama sekali tidak terdengar komitmen-komitmen ketaatan. Pernikahan berjalan secara linier tanpa ada sentuhan ibadah didalamnya. Tidak ada kekhasan yang bisa membedakan dengan rumah tangga nonmuslim. Aktivitas fisik hanya selesai pada urusan bekerja di kantor, memasak, olahraga, mempercantik diri, berhubungan suami-istri dan lain sebagainya. Demikian pula aktivitas batin yang tak jauh beda, hanya berisi urusan saling menanamkan cinta, rindu dan kasih sayang pada suami,istri dan anak-anak, tidak lebih.
Ada seorang teman kita yang mengatakan, “keluarga si fulan itu tidak sholat, tidak terlihat mereka taat ibadah, tapi ekonominya berkecukupan, buktinya mereka tentram dan bahagia”. Lebih panjang lebar lagi si teman kita ini memberikan analisanya, bahwa ketentraman yang terlihat di keluarga mereka disebabkan faktor kepribadian suami-istri yang sama-sama humanis, cerdas emosi dan mapan ekonomi. Kemudian teman kita ini membandingkan “Lihat saja yang satunya, dia sholat, istrinya juga taat, tapi tak cukup memberi semangat bagi saya untuk membina rumah tangga seperti mereka, ekonominya biasa-biasa saja”.

Kita mungkin pernah mendengar pernyataan-pernyataan seperti ini. Atau malah kita sendiri punya pertanyaan yang sama sebagaimana teman kita ini. Yang dilihat teman kita ini bisa jadi memang benar, artinya tak ibadah pun mereka tetap harmonis. Tapi bisa juga salah, mereka sesungguhnya tidak bahagia.

Kita mulai dari sini. Mari kita dengar pernyataan Steven Covey penulis buku monumental “Seven Habits of Highly Effective People” . Covey mengatakan, “kecerdasan emosionalitas dan intelektualitas tanpa bersumber spiritualitas akan kehabisan energi dan berbelok arah”. Spiritualitas dalam hal ini adalah urusan ketuhanan, yaitu ketaatan dalam beragama.

Menurut Covey, jika hidup (baca: keluarga) tanpa disentuh spiritualitas, akan kehabisan energi. Maksudnya begini, energi berbuat baik itu ada sumbernya. Apabila sumbernya habis maka energi itu juga akan habis. Pertanyaan selanjutnya, sampai kapan energi berpikir positif, energi sabar dan telaten mendidik anak, energi sabar ketika ada ketidakcocokan dengan pasangan, energi setia terhadap pasangan untuk sekedar tidak ngelirik kemana-mana atau energ-energi positif lain yang diajarkan oleh teori-teori barat itu akan bertahan. Dalam beberapa hantaman gelombang pertama mungkin masih bisa bertahan. Tapi hantaman-hantaman berikutnya, barangkali bahtera itu sudah kandas atau tenggelam di dalam lautan. Tanpa ada sandaran yang kokoh, kata Covey, nilai-nilai positif itu tidak akan bertahan lama.

Kemudian menurut Covey lagi, kita akan berbelok arah. Untuk yang ini, ijinkan penulis memberi contoh yang sangat tak menyenangkan buat anda. Misalnya begini, karena senyum suami anda yang menawan, kemampuan komunikasinya yang baik, pandai menyentuh hati orang dengan pujian, ditambahi kantong yang sedikit tebal, eh ternyata kebaikan itu digunakan untuk yang “aneh-aneh”, nah!. Pada “penyakit” yang stadiumnya masih rendah, berbelok arah berkaitan dengan ketidakjujuran, pamrih dan ketidaktulusan hati ketika berbuat baik.

Maka teori baratpun saat ini menyimpulkan, spiritualitas (keyakinan dan komitmen beragama) adalah satu-satunya, tidak ada yang lain, sebagai kunci mempertahan nilai-nilai kebaikan. Dan kebaikan yang konsisten itu, akhirnya akan melanggengkan suasana tentram dalam rumah tangga.

Apalagi bagi kita sebagai muslim, yang aturan dan tuntunan agamanya begitu sempurna. Coba rasakan dan bayangkan, betapa besarnya energi berbuat baik pada pribadi seorang suami ketika hatinya terisi keyakinan dan kepatuhan pada sabda Rosululloh berikut ini, “Barangsiapa yang beriman pada Alloh dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangga dan berbuat baiklah kepada wanita.(HR. Bukhori)

Subhanalloh, dalam islam berbuat baik kepada istri adalah ukuran keimanan kepada Alloh dan hari akhir. Ah, anda para istri, benar-benar akan menjadi ratu di rumah sendiri.

Kebahagiaan Hakiki

Ketika sumber energi berbuat baik itu habis atau ketika kebaikan tujuannya menjadi berbelok arah, maka saat itu titik dimana dimungkinkan terjadi ketidaktentraman. Stress dan perselisihan riskan untuk muncul di permukaan. Kalaupun teman kita tadi berkata bahwa ada keluarga yang tanpa menghidupkan suasana Islami tetap bisa tentram dan bahagia, ukurannya masih sangat subyektif. Jangan-jangan hanya di permukaan, keadaan sebenarnya tidak demikian. Atau, dia bahagia pada kondisi dimana dia belum waktunya untuk bahagia. Loh, maksudnya?

Ukuran kebahagiaan, bagaimanakah ukuran kebahagiaan. Kita ambil pengertian sederhananya saja, menurut penulis, bahagia itu diukur dengan keadaan puas dan tidak adanya kesedihan dalam diri seseorang.
Ukurannya subyektif sekali. Karena sifatnya yang personal itu, maka bahagia dipengaruhi oleh kapasitas ilmu dan pemahaman pribadi masing-masing orang.
Contoh, apakah koruptor itu hidupnya bahagia?. Jawabannya relatif. Bisa “ya”, bisa “tidak”. Jika koruptor itu, anggap saja sama sekali tidak punya keyakinan kepada Tuhan. Di benaknya tidak ada pikiran adanya balasan api neraka, maka kemungkinan besar ia akan bahagia. Selama tidak ada yang tahu kejahatannya, ia tetap berada dalam kebahagiaannya. Dengan demikian keputusan sementara, KORUPTOR ITU TERNYATA HIDUPNYA BAHAGIA.

Namun beda keadaannya, jika koruptor itu setelah melakukan kejahatan ia sadar dan takut akan kemurkaan Alloh padanya. Ia yakin akan balasan akhirat. Hari-harinya dihantui rasa menyesal dan ketakutan akan ancaman siksa kubur dan api neraka. Maka walau tidak ada yang tahu, ia tidak bahagia atas kejahatan yang dilakukannya. Lihat, KORUPTOR ITU TERNYATA HIDUPNYA TIDAK BAHAGIA.

Dari contoh di atas mudah-mudahan anda sudah bisa menyimpulkan maksud penulis.
Hukum-hukum yang ada di luar kita akan tetap berlaku tanpa peduli kita memperhatikannya apa tidak. Sampai kapanpun, balasan surga bagi orang yang beramal sholih tetap berlaku sebagaimana neraka disediakan untuk orang-orang yang berbuat kejahatan dan kemungkaran. Tak perlu menunggu kita percaya terhadap itu semua atau tidak.
Pertanyaannya, kalau kita bahagia saat ini, sudahkah kebahagiaan itu juga mengundang kebahagiaan di akhirat nanti?. Apakah kita tetap akan merasa bahagia dengan melimpahnya harta, suami kaya, istri cantik, anak-anak yang pintar walau tak melaksanakan ibadah sholat misalnya?. Percayalah, bahagia disebut hakiki itu jika ada tiga hal, pertama : tahan lama, kedua : sumber kebahagiaan itu suci, yang

ketiga: BERBUAH SURGA.

Rumah Tangga Sumber Ibadah Utama

Kalau saja pernikahan tidak dipahami sebagai sarana berbagi kasih suami-istri semata, namun lebih utama adalah media ibadah kepada Alloh, pasti semua keluarga muslim akan berkomitmen untuk menghidupkan rumah tangganya secara Islami. Suaminya memimpin, dengan memimpin secara Islami. Istri bersikap dengan akhlak yang Islami. Dan anak-anak, dididik dengan pendidikan Islami.

Suami atau istri memiliki amanah yang tali pengikatnya tersambung sampai ke langit ke tujuh. Ada tanggungjawab yang diamanahkan Alloh yang harus ditunaikan, apapun peran yang dipegang, baik sebagai suami maupun istri. Alloh berfirman di dalam Al-Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)
Maka, hidupkanlah rumah kita dengan ketaatan. Hiasi dengan ibadah sunnah dan akhlak-akhlak mulia para penghuninya. Undanglah para malaikat untuk senang berkunjung ke rumah kita dengan tilawah Al-Qur’an. Mudah-mudahan rumah tangga kita menjadi miniatur surga sebelum surga sesungguhnya. Baiti Jannati. Wallohu A’lam bisshowab..
(wsm/ktp/nh)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda