Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama Bagimu (Al Maidah: ayat 3)

1.28.2009

Rekonsiliasi Hamas-Fatah dan Para Pengkhianat


Pertemuan Kairo antara perwakilan Hamas dan Fatah, ibarat seberkas sinar-meski redup-bagi jutaan rakyat Palestina yang berharap dan berdia agar perpecahan antara kedua faksi terbesar di Palestina itu segera berakhir.

Meski terlihat wajar dan simbolis, pertemuan itu menunjukkan bahwa persoalan yang melilit kedubelah pihak bisa diatasi jika kedua faksi itu berniat baik, khususnya rezim Fatah di Ramallah yang selama ini bersikap memalukan karena selalu tunduk dengan kemauan Israel dan AS.

Tak bisa dipungkiri, pertikaian antara Hamas dan Fatah telah menimbulkan malapetaka bagi persoalan Palestina dan menimbulkan pertumpahan darah di kalangan rakyat Palestina sendiri, sebuah luka yang akan butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.

Meski demikian, rakyat Palestina tetap satu, mereka merasakan rasa sakit dan penderitaan yang sama dibawah penjajahan Israel. Rakyat Palestina tetap memiliki harapan yang sama akan keadilan dan kemerdekaan. Untuk itu dibutuhkan kehidupan harmonis yang kekal di Palestina dan untuk mencapai itu, rakyat Palestina harus jujur dan terbuka serta menahan diri untuk tidak menjatuhkan pihak lain. Sikap seperti ini perlu, atau Hamas maupun Fatah akan tenggelam dan eksistensi mereka memudar.

Bencana besar telah menimpa rakyat Palestina di Jalur Gaza. Agresi brutal itu merupakan kemenangan bagi Israel, kecuali jika entitas Zio-Nazi melihat pembantaian terhadap warga sipil tak berdosa dan penghancuran pemukiman penduduk serta gedung-gedung milik publik adalah tindakan heroik, maka Adolf Hitler bisa disebut sebagai pahlawan besar sepanjang masa.

Israel berusaha melumpuhkan Hamas, menghancurkan legitimasi pemerintahannya dan berupaya mengembalikan Jalur Gaza pada pimpinan otoritas Palestina Mahmud Abbas dengan menggunakan piring perak. Faktanya, Israel gagal mencapai tujuan jahatnya. Tapi kaum Zionis adalah kaum bebal dan pikiran mereka terlalu jahat untuk memahami makna kemurahan hati, karena kemurahan hari paling tidak harus mengedepankan rasa kemanusiaan dan Zionisme tidak mengenal rasa kemanusiaan.

Hamas dan kelompok pejuang Palestina lainnya menuai membuktikan ketangguhan dan menuai kemenangan yang legendaris dalam menghadapi para kriminal yang jahat, yang telah mengobarkan perang. Di sisi lain kita cuma melihat pernyataan-pernyataan yang menghinakan, desas-desus bahkan fitnah murahan dari Ramallah yang berisi tudingan bahwa Hamas dan para pejuang di Gaza bertanggung jawab atas syahidnya ribuan warga sipil dan atas kehancuran di Gaza. Seolah-olah pilot-pilot pembunuh yang menghujani rakyat sipil dan anak-anak di Gaza dengan bom serta misil yang mengandung zat fosfor putih adalah anggota Hamas, dan bukan tentara-tentara Israel yang telah melakukan kejahatan perang.

Sudah pasti, tuduhan murahan itu dilontarkan oleh dua katagori manusia, yaitu manusia-manusia bodoh yang tidak tahu fakta yang sebenarnya dan para pengkhianat bonafit yang melaksanakan tugas-tugas dari Israel. Kelompok manusia pertama, bisa dimaafkan karena ketidakpahaman dan kebodohan mereka. Tapi, kelompok pengkhianat adalah orang-orang Yudas yang harus dibungkam dan dihukum. Dan jika momennya tidak kondusif untuk menindak mereka dengan cara yang layak sekarang ini, maka orang-orang seperti itu harus diisolasi dan dipermalukan.

Hamas memegang tugas khusus untuk menindak para pengkhianat itu dalam beberapa minggu atau beberapa bulan kedepan. Jika tidak, para para petualang yang ada di dalam tubuh Fatah dan otoritas pemerintahan Palestina yaitu orang-orang yang telah melakukan hubungan mesum secara terbuka dengan cara berkolaborasi dengan Shin Beth (intelejen dalam negeri Israel) dan CIA dengan tujuan memperkosa perjuangan rakyat Palestina dan membantu tujuan jahat AS, akan terus melakukan finah dan berusaha untuk menggoyang perjuangan kolektif rakyat Palestina. Orang-orang seperti itu harus disingkirkan, diisolasi, diekspos ke masyarakat, dipermalukan dan harus dipaksa membayar pengkhianatan dan pembelotan yang telah mereka lakukan.

Tapi Fatah bukanlah sebuah gerakan para pengkhianat dan rakyat Palestina tidak ingin melihat Fatah jatuh ke pangkuan orang-orang seperti Muhammed Dahlan, Nimr Hammad dan al-Tayeb Abdul Rahim, orang-orang yang mungkin sedang memimpikan kemenangan Israel di Gaza. Oleh sebab itu, akan sangat bijak dan adalah hak Hamas untuk merangkul para patriot sejati yang masih ada di tubuh Fatah dan Hamas bisa melakukannya sekarang. Apa yang terjadi di Gaza, telah membuat Hamas mendapat penghormatan dan dikagumi oleh masyarakat dunia. Inilah saatnya Hamas untuk menunjukkan fleksibilitasnya terhadap wacana pembentukan kembali pemerintahan nasional Palestina bersatu.

Jika pemerintahan nasional bersatu itu akan dibentuk kembali, pemerintahan Fayad harus dibubarkan dan dibuang ke dalam tong sampah sejarah. Pemulihan pemerintahan nasional bersatu juga harus menyingkirkan orang-orang seperti Keith Dayton dan agen-agen CIA lainnya yang telah mengajarkan pada ratusan bahkan ribuan pemuda-pemuda Palestina yang masih muda dan naif bahwa musuh mereka adalah Hamas dan bukan kaum Zionis yang telah membantai ribuan anak-anak dan warga sipil Palestina di Jalur Gaza dan telah merampas tanah air mereka.

Dalam al-Quran, Allah swt memerintahkan umat Islam untuk menahan diri dan tidak jatuh dalam konflik internal dan perpecahan. Dalam surat Anfal Allah swt berfirman,"Dan patuhlan pada Allah dan Rasulnya, dan janganlah saling bertikai, lapangkanlah hati dan singkirkan nafsu: bersabarlah dan bertekadlah. Allah bersama-sama orang-orang yang sabar dan takwa."

Dan diantara seluruh faksi yang ada di Palestina, Hamaslah yang selayaknya lebih memahami firman Allah ini. Amiin.

Khalid Amayreh, Palestine Information Center(wsm/ktp/em)


0 komentar:

Poskan Komentar

Terimaksih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel diatas,silahkan tinggalkan komentar Anda